Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Bermula dari Niat
30 Juni 2013 pukul 21:00 WIB
Silaturrahim itu Indah
24 Juni 2013 pukul 10:00 WIB
Berat untuk Berbohong
18 Juni 2013 pukul 21:00 WIB
Harta yang Merenggangkan
6 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 6 Juli 2013 pukul 21:00 WIB

Seharusnya, Malu dengan Penampilan

Penulis : Mujahid Alamaya

Beberapa waktu lalu, ketika turun dari bis Bandara Soekarno Hatta di kawasan Kalibata - Pancoran, saya melihat beberapa pemuda dengan atribut anak pengajian sedang memasang atau mungkin menurunkan spanduk di pertigaan jalan. Sikap mereka begitu acuh tidak memedulikan keadaan di sekitarnya, padahal banyak pengguna jalan yang lewat.

Kemudian saya menaiki mikrolet. Di dalam mikrolet, ada 3 orang pemuda yang juga beratribut anak pengajian. Berpeci, mengenakan baju koko dan kain sarung. Mereka duduk seenaknya sendiri sambil menghisap rokok. Penumpang lain mulai memenuhi mikrolet, namun 3 orang pemuda tadi masih mengepulkan asap rokok dan bersikap acuh tak acuh.

Mikrolet melaju. Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, 3 orang pemuda tadi turun. Ketika membayar ongkos, mereka bertiga hanya membayar 3.000 rupiah. Sang sopir tidak terima, dan meminta ongkos sesuai tarif. Namun 3 orang pemuda itu bersikeras hanya membayar 3.000 rupiah. Adu argumen terjadi, namun akhirnya sang sopir mengalah.

Melihat tingkah laku mereka yang beratribut anak pengajian, saya malu. Sikap mereka seakan menyentak saya. Ya, saya yang melihatnya saja merasa gerah dengan sikap mereka yang tidak mencerminkan sebagai anak pengajian. Penampilan mereka tidak disertai dengan sikap dan akhlak yang baik. Seharusnya, mereka itu malu dengan penampilannya.

Apakah mereka diajarkan demikian di pengajian? Ataukah, ilmu yang disampaikan di pengajian hanya masuk telinga kanan dan ke luar dari telinga kiri? Entahlah. Yang pasti, banyak saya temui mereka-mereka yang beratribut anak pengajian, namun tidak mencerminkan sebagai anak pengajian. Sikap mereka seperti itu, membuat malu kaum muslimin di mata orang lain.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Maharandi | Karyawan
Syukur alhamdulillah, sejak pertama kali membaca tulisan-tulisannya, saya langsung tertarik, karena materinya beragam dan terkadang mendatangkan inspirasi baru. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayahNya kepada kita semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1259 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels