|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 18 Juli 2013 pukul 20:02 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Beberapa tahun lalu, saya mengantar sepupu untuk kembali ke sebuah pondok pesantren yang katanya bertaraf internasional di sebuah kota di Jawa Timur. Saat itu, masa liburan telah usai, namun sepupu saya seakan tak mau kembali ke pondok. Setelah bujuk rayu, akhirnya sepupu mau kembali ke pondok.
Saya berangkat bertiga. Saya, sepupu, dan salah seorang senior sepupu yang telah lama mondok di sana. Pihak keluarga masing-masing mengantarkan keberangkatan kami ke stasiun kereta api. Perjalananpun dimulai dengan menggunakan kereta api Mutiara Selatan. Saya duduk berjauhan dengan mereka berdua.
Keganjilan mulai terlihat ketika kereta baru beberapa menit meninggalkan stasiun Bandung. Senior sepupu saya mengubah penampilannya. Semula, rapi dengan peci hitam. Namun kemudian berganti menjadi topi merah. Sosok yang semula terlihat ramah dan santun di depan keluarganya, berubah seketika.
Pun ketika di pondok, saya merasakan keganjilan-keganjilan. Beberapa santri senior yang seharusnya lebih disiplin dan menjadi contoh kebaikan bagi juniornya, sering melakukan perbuatan indisipliner yang dilarang pondok. Merokok, misalnya. Mereka sembunyi-sembunyi membeli rokok, lalu menghisapnya beramai-ramai.
Dan yang lebih mencengangkan adalah saat hendak shalat berjama'ah. Ketika iqamat dikumandangkan, beberapa santri mulai menempati shaf. Jika ada santri yang tidak langsung berdiri dan menempati shaf, beberapa santri senior tak sungkan untuk memukulkan sajadah pada juniornya. "Seperti inikah pendidikan di pondok yang katanya modern?" batin saya.
Pantas saja sepupu saya tidak betah belajar di pondok tersebut. Karena katanya, sedikit kesalahan saja, hukuman bakal diterima para santri. Hal seperti ini dibenarkan oleh seorang bapak yang kebetulan sedang berada di pondok dan satu penginapan dengan saya. Ia sedang menemani anaknya yang juga tidak betah.
Mmm... Mungkin seperti itulah pendidikan yang tidak dilandasi dengan ketulusan hati, hasilnyapun tidak akan mengena di hati. Malah mungkin akan membuat ketidaktenangan, seperti merasa tidak betah dan lain sebagainya. Saya yang melihatnya saja merasa tidak tenang, apalagi mereka yang merasakannya langsung.
Teringat dengan yang sering dikatakan Aa Gym, bahwa hati hanya dapat disentuh dengan hati. Maka, mendidiklah dengan hati agar apa yang diajarkan dapat mengena di hati. Mendidik dengan hati tujuannya hanya satu, yakni terjadinya kesinambungan antara otak dan hati. Hasilnya, insya Allah ketenanganpun dapat dirasakan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.