HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Jangan Cuma Usul, tapi Realisasikan
7 April 2013 pukul 21:00 WIB
Kemunduran Iman
1 April 2013 pukul 21:00 WIB
2000 Rupiah
26 Maret 2013 pukul 22:00 WIB
Dakwah atau Politik?
20 Maret 2013 pukul 20:00 WIB
Bukan untuk Cari Muka
14 Maret 2013 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 13 April 2013 pukul 11:00 WIB

Menjaga Harga Diri

Penulis : Mujahid Alamaya

Tak dapat dipungkiri bahwa di banyak kota besar, profesi pengemis banyak diminati oleh mereka yang berpikiran sempit. Kemiskinan dijadikan alasan untuk mengemis, walaupun sebenarnya, secara fisik, mereka masih mampu untuk berkarya. Rupanya sifat malas telah mengalahkan sifat rajin.

Melihat fenomena tersebut, saya jadi teringat dengan sebuah keluarga di dekat tempat tinggal saya. Bisa dikatakan mereka merupakan keluarga miskin. Tinggal di sebuah gubuk, karena memang rumahnya berdindingkan bilik bambu, yang luasnya kira-kira sekitar 20 meter persegi. Itupun statusnya kontrak.

Kemiskinan tersebut, tidak membuat mereka berpikiran sempit. Kepala keluarga tetap bertanggung jawab untuk menjemput rejeki dan menafkahi keluarganya. Kerja apapun ia lakukan, asalkan halal. Pedagang asongan dan pedagang kaki lima pernah ia lakoni, tanpa sungkan dan malu. Sang istripun turut membantu dengan kerja serabutan. Membantu pekerjaan rumah tangga tetangga ataupun mengerjakan pekerjaan ringan lainnya.

Walaupun pekerjaan mereka tidak tetap, namun ada saja rejeki yang mengalir untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Rejeki yang diperoleh, mereka gunakan dengan sebaik-baiknya. Beberapa tetanggapun banyak yang membantu mereka untuk sekedar meringankan beban.

Kesungguhan mereka dalam menjemput rejeki di tengah kemiskinannya, merupakan salah satu cara untuk menjaga harga diri. Mereka telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk berpikiran sempit dengan menjadi pengemis. Dan, kesungguhan mereka tersebut berbuah manis, yakni kebutuhan hidupnya dapat tercukupi.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Vitra | Exim Staff
Sangat hebatzzz, KSC!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1429 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels