|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Jum'at, 8 Maret 2013 pukul 10:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Saya punya kakak sepupu, perempuan. Dulu, kami sangat akrab. Ia pernah tinggal di rumah kami selama beberapa bulan, kebetulan saat itu ia sedang mengikuti orientasi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang dekat dengan rumah. Sepeninggal ibu, kami jadi jarang silaturrahim dengan keluarga besar yang lain, begitu pula dengan sepupu saya ini.
Waktu terus berlalu, jarang sekali kami bertemu. Seingat saya, terakhir bertemu adalah ketika saya masih kelas 3 SMA. Saya sengaja silaturrahim ke rumahnya, dan beberapa kali bertemu secara tak sengaja ketika sedang di jalan. Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu sama sekali. Termasuk ketika ia menikah, saat itu saya sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggal.
Hingga pada suatu hari, kami kembali dipertemukan melalui jejaring sosial Facebook. Kamipun bertukar kabar melalui Pesan, sesekali ia mengomentari status saya. Ia mengatakan keinginannya untuk bertemu. Iapun memberikan alamat rumahnya di sebuah kota di jalur Pantura. Rencanapun saya susun. Namun rencana tinggallah rencana. Saya tidak sempat ke kota tersebut.
Kabar mengejutkan saya terima dua bulan silam. Ia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Saya baru tahu, bahwa ia menderita penyakit kronis stadium tinggi. Rasa sesalpun mendera. Andai saja saat itu saya memenuhi keinginannya untuk bertemu, andai ini, dan andai itu. Saya hanya bisa berandai-andai dan sangat menyesal sekali tidak meluangkan waktu untuknya.
Kini, sesalpun tiada gunanya. Lalu bagaimana supaya tidak menyesal jika kejadian serupa terulang lagi? Kita, khususnya diri ini, jika dalam hal kebaikan, harus sesegera mungkin melakukannya. Luangkan waktu selagi sempat. Apalagi menyambung tali silaturrahim yang terputus. Niatkan dalam diri, untuk selalu bersegera dalam hal kebaikan, salah satunya silaturrahim.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.