HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Anak Ngaji kok Pacaran?
2 Maret 2013 pukul 12:00 WIB
Kasih yang Tak Terbalas
24 Februari 2013 pukul 13:00 WIB
Kencleng Toilet
18 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Tetap pada Waktunya
12 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Shalat kok Diburu-buru?
6 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 8 Maret 2013 pukul 10:00 WIB

Sesalpun Tiada Gunanya

Penulis : Mujahid Alamaya

Saya punya kakak sepupu, perempuan. Dulu, kami sangat akrab. Ia pernah tinggal di rumah kami selama beberapa bulan, kebetulan saat itu ia sedang mengikuti orientasi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi yang dekat dengan rumah. Sepeninggal ibu, kami jadi jarang silaturrahim dengan keluarga besar yang lain, begitu pula dengan sepupu saya ini.

Waktu terus berlalu, jarang sekali kami bertemu. Seingat saya, terakhir bertemu adalah ketika saya masih kelas 3 SMA. Saya sengaja silaturrahim ke rumahnya, dan beberapa kali bertemu secara tak sengaja ketika sedang di jalan. Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu sama sekali. Termasuk ketika ia menikah, saat itu saya sedang ada agenda yang tidak bisa ditinggal.

Hingga pada suatu hari, kami kembali dipertemukan melalui jejaring sosial Facebook. Kamipun bertukar kabar melalui Pesan, sesekali ia mengomentari status saya. Ia mengatakan keinginannya untuk bertemu. Iapun memberikan alamat rumahnya di sebuah kota di jalur Pantura. Rencanapun saya susun. Namun rencana tinggallah rencana. Saya tidak sempat ke kota tersebut.

Kabar mengejutkan saya terima dua bulan silam. Ia pergi meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Saya baru tahu, bahwa ia menderita penyakit kronis stadium tinggi. Rasa sesalpun mendera. Andai saja saat itu saya memenuhi keinginannya untuk bertemu, andai ini, dan andai itu. Saya hanya bisa berandai-andai dan sangat menyesal sekali tidak meluangkan waktu untuknya.

Kini, sesalpun tiada gunanya. Lalu bagaimana supaya tidak menyesal jika kejadian serupa terulang lagi? Kita, khususnya diri ini, jika dalam hal kebaikan, harus sesegera mungkin melakukannya. Luangkan waktu selagi sempat. Apalagi menyambung tali silaturrahim yang terputus. Niatkan dalam diri, untuk selalu bersegera dalam hal kebaikan, salah satunya silaturrahim.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1119 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels