HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Kencleng Toilet
18 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Tetap pada Waktunya
12 Februari 2013 pukul 11:00 WIB
Shalat kok Diburu-buru?
6 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Keangkuhan yang Roboh
31 Januari 2013 pukul 15:00 WIB
"Anak Ngaji" kok Begitu?
25 Januari 2013 pukul 09:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 24 Februari 2013 pukul 13:00 WIB

Kasih yang Tak Terbalas

Penulis : Mujahid Alamaya

Sudah lazim kita ketahui, bahwa kasih orangtua, baik ayah maupun ibu, kepada anaknya tak mungkin terbalas oleh apapun dan dengan cara apapun kita memuliakan mereka. Ketulusan mereka dalam memberikan kasih sayang kepada anaknya sejak lahir hingga dewasa, tak ternilai harganya dan tak dapat dibalas dengan materi.

Begitupun dengan yang saya alami dan rasakan. Sepeninggal ibu, ketika usia saya masih 9 tahun, ayah berperan ganda dalam memberikan kasih sayang. Selain menjemput rejeki, ayah selalu menyempatkan waktu untuk memerhatikan kondisi kami, anak-anaknya. Kadang ayah meluangkan waktu untuk menyuapi saya dan adik ketika makan.

Kini, seiring berjalannya waktu, saya tinggal berpisah dengan ayah. Saya di Jakarta, sedangkan ayah di Bandung. Melihat kondisi kesehatannya yang mulai menurun, ayah butuh perhatian ekstra. Karena kendala jarak yang sebetulnya jangan dijadikan alasan, saya jarang bertemu ayah. Sesekali kami berkomunikasi lewat telepon.

Walaupun demikian, saya berusaha semaksimal mungkin untuk berbakti kepada ayah, dengan memuliakannya. Saya berusaha memenuhi semua keinginannya. Walaupun sebenarnya ayah tidak mengatakan ingin ini maupun itu, saya coba bertanya apa yang ayah inginkan. Dan saya akan berusaha memenuhi semua keinginannya.

Dari beberapa kali obrolan ketika saya bertanya mau ayah apa, ayah tidak mengatakannya secara langsung, namun saya menangkap apa maksudnya, ia hanya ingin saya dan juga anak-anaknya yang lain bisa berkumpul dengan ayah. Walaupun mungkin tidak tiap hari, tapi dalam periode tertentu, ayah menginginkan kami semua berkumpul bersama.

Sederhana sekali keinginannya. Namun, kami belum tentu bisa mengabulkan keinginannya. Kalaupun kami bisa mengabulkannya, tak akan pernah mampu membalas segala curahan kasih sayang selama ini. Untaian do'a dan keshalehan kami selaku anaknya, pun belum tentu dapat membalas kasih sayang orangtua.

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku sewaktu aku kecil.”

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Akhmad Muhaimin Azzet | Penulis
Membaca-baca di KotaSantri.com, di samping memetik motivasi dan inspirasi, betapa terasa damai di dada. Sungguh. Beginilah bila akhlak mulia yang dijunjung dan dijaga. Alhamdulillah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1101 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels