|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Selasa, 20 November 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Layaknya seorang pengembara di padang pasir yang kehausan, ketika menemukan sumber air, maka dengan serta merta menghampiri sumber air tersebut dan segera meneguknya untuk menghilangkan dahaga yang amat sangat. Begitulah kira-kira jika saya menganalogikan masyarakat Kp. Pasanggrahan, Desa/Kec. Cimenyan, Kab. Bandung yang begitu antusias dalam mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh Klab Santri Peduli (KSP).
Memang, tidak semua warga bisa mengikuti semua kegiatan yang diselenggarakan oleh KSP. Tapi, setidaknya, antusiasme 50% warga di wilayah tersebut tentu cukup membanggakan. Karena biasanya, mereka lebih mengutamakan sesuatu hal yang dapat menghasilkan materi untuk menyambung hidup. Maklum, kondisi ekonomi di sana masih belum stabil, karena mayoritas masih bergantung pada sektor pertanian.
Pernah suatu ketika, ketika kami sedang dalam perjalanan untuk menjemput ustadz, beberapa warga kampung sebelah ikut menumpang kendaraan yang kami gunakan. Tujuannya, untuk mengikuti pengajian di kampung sebelahnya lagi. Dalam perjalanan tersebut, seorang bapak bercerita, “Alhamdulillaah berkenan mengadakan kegiatan keagamaan di sekitar sini. Di sini memang sangat membutuhkan pencerahan untuk pemahaman agama. Terutama di wilayah tersebut.”
“Masyarakat sini, rata-rata lebih mengutamakan ekonomi, apalagi di musim hujan ini. Kalau ada pengajian, pasti mereka lebih mengutamakan bertani di sawah. Makanya jama’ah yang hadir selalu sedikit. Memang, tidak semuanya begitu. Masih ada warga yang rela berjalan berkilo-kilo meter untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan di kampung sebelah. Tapi, kalau lagi musim kemarau, hampir semuanya mengikuti pengajian,” lanjutnya.
Ya, mereka biasa berjalan berkaki untuk melakukan berbagai hal. Maklum, di wilayah tersebut, sarana transportasi sangatlah minim. Hanya beberapa warga yang terlihat memiliki sepeda motor. Misalnya, dalam kegiatan yang diselenggarakan di bulan lalu, warga dari kampung sebelah datang berbondong-bondong dengan jalan kaki untuk menghadiri Tabligh Akbar. Padahal, jaraknya cukup jauh dan jalannya pun menanjak.
Semangat mereka dalam menuntut ilmu, patut menjadi cermin bagi kita, khususnya bagi saya. Mereka yang tinggal di jauh dari kota, dimana sarana transportasi sangat minim, tetap semangat untuk menuntut ilmu walaupun harus jalan kaki dengan jarak yang jauh. Sedangkan yang sarana transportasinya tidaklah sulit, terkadang enggan untuk melangkahkan kaki ke majelis ilmu yang banyak digelar di mana-mana.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.