|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Jum'at, 2 November 2012 pukul 14:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Sebut saja namanya King, seorang remaja yang saat itu sedang sekolah kelas tiga di SMAN 1 Cibinong. Ayahnya adalah seorang missionaris. Sebelum orangtuanya King menikah, Sang Ayah telah masuk Islam. Tapi ternyata setelah menikah dan dikaruniai anak, Sang Ayah kembali ke agamanya semula. Dan dia memberikan pilihan kepada Sang Istri (ibunya King), yakni cerai tanpa harta dan anak atau ikut masuk agamanya. Sang Ibu memilih bercerai serta rela kehilangan harta dan anak-anak.
Setelah perceraian, King dan adik-adiknya tinggal bersama Sang Ayah serta menuruti semua keinginannya. Lain dengan adik-adiknya yang masih kecil, King tetap memeluk Islam dan rajin beribadah secara sembunyi-sembunyi. Pernah suatu hari, pulang dari shalat Jum'at, King ketahuan oleh ayahnya. Tanpa basa-basi, King langsung dianiaya Sang Ayah supaya tidak melakukan hal tersebut. Merasa tidak kuat dengan perlakuan Sang Ayah, King minggat dari rumah dan menyelamatkan diri ke ibunya.
Sang Ayah mengejar King dan bersumpah serapah di depan Sang Ibu serta keluarga ibunya, jikalau King tetap memeluk Islam dan tidak kembali kepada Sang Ayah, maka King sudah bukan anaknya lagi dan dianggap telah meninggal. Pun semua kebutuhan King bukan menjadi tanggung jawab Sang Ayah lagi. Tetapi King tetap tegar dan tidak bergeming dengan ancaman Sang Ayah. Tak ada pilihan lain, King harus ikut dengan Sang Ibu dan tinggal di sebuah kamar kontrakan kecil yang alakadarnya.
Karena Sang Ayah tidak memberikan nafkah kepada mereka berdua, Sang Ibu harus mencari nafkah dengan berjualan kecil-kecilan di kantin sebuah SD. Karena himpitan ekonomi, setelah 2 tahun pisah, Sang Ibu rujuk dengan Sang Ayah dan mau tak mau harus memenuhi semua permintaan Sang Ayah. Merekapun tinggal serumah. Melihat sikap King yang teguh pendirian dengan tetap memeluk Islam, maka King 'diungsikan' Sang Ibu ke sebuah Pondok untuk tinggal di sana sambil menimba ilmu.
Itulah perjalanan hidup yang dialami King, beberapa tahun yang lalu. King merupakan penerima Dana Prestatif yang saat itu dikoordinir oleh saya dalam wadah Klab Santri Peduli. Terakhir bertemu dengannya 5 tahun yang lalu, dalam acara silaturrahim Klab Santri Peduli. Mungkin masih banyak orang yang seperti King dan rela minggat demi memertahankan aqidah. Mereka telah berjuang sepenuh hati, dan kitalah yang harus mendukung serta membantunya agar tetap dalam naungan cinta-Nya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.