HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Kok Mereka Akrab Sekali?
9 Oktober 2012 pukul 08:00 WIB
Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga
3 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Bukankah itu Haram?
27 September 2012 pukul 10:00 WIB
Mengutamakan yang Halal
21 September 2012 pukul 10:00 WIB
Bapak
20 September 2012 pukul 10:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 15 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB

Antara Pengemis dan Pedagang Asongan

Penulis : Mujahid Alamaya

Di kota besar, tidak bisa lepas dari yang namanya pengemis dan pedagang asongan. Mereka sama-sama mengais rezeki, namun dengan cara yang berbeda. Pengemis, hanya menengadahkan tangan dan meminta belas kasihan orang lain. Sedangkan pedagang asongan, menjajakan dagangannya di bawah terik matahari. Itupun belum tentu dagangannya laku terjual.

Seperti biasa, setiap selesai shalat Jum'at, di halaman masjid kantor ada beberapa pengemis yang berharap belas kasihan dari para jama'ah. Suatu hari, salah seorang pengemis menghampiri saya dan menyodorkan tangannya. Ketika saya bilang maaf dan tidak memberinya uang, ia bersungut-sungut mengomeli saya dengan kata-kata yang tidak enak untuk didengar.

Masih di sekitar kantor, setiap waktu shalat, saya sering melihat pedagang asongan yang menunaikan shalat di masjid kantor. Di antara mereka ada yang sudah berumur. Begitu pula di terminal yang tidak jauh dari kantor, banyak pedagang asongan yang sudah berumur. Mereka menjajakan aneka dagangannya kepada orang-orang yang berlalu lalang di sekitar terminal.

Antara pengemis dan pedagang asongan tersebut, saya lebih menghargai pedagang asongan, karena pedagang asongan telah menunjukan kesungguhannya berikhtiar menjemput rezeki, dibanding pengemis yang hanya meminta-minta. Walaupun saya tidak membutuhkan, saya berusaha membeli dagangan pedagang asongan, sekedar berbagi rezeki dengan mereka.

Saya bukan berarti tidak bersedekah pada pengemis, tapi ingin memberikan sebuah pembelajaran pada pengemis, agar mereka mau bersungguh-sungguh untuk ikhtiar. Karena mereka yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiar menjemput rezeki itu lebih mulia dibandingkan dengan mereka yang hanya mengandalkan meminta-minta atau menunggu uluran tangan orang lain.

"Tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang diberi), dan dahulukan orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaganya. Dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya." (HR. Muttafaq'alaihi).

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1384 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels