|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 27 September 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu hari, saya berdiskusi dengan salah seorang rekan mengenai kebobrokan sistem absensi di instansi tempatnya "mengabdi". Kebobrokan tersebut sudah berlangsung lama, sejak Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) diberlakukan. Jika absensi bagus, maka TKD yang diterima bisa mencapai seratus persen dan jumlahnya cukup besar. Namun jika absensi jelek, maka TKD yang diterima hanya beberapa persen saja.
Melihat banyaknya "abdi negara" yang datang dan pulang sesuka hati, dapat dipastikan bahwa absensi mereka jelek dan otomatis TKD yang diterima hanya sedikit. Namun apa yang terjadi? Pihak kepegawaian dengan entengnya memanipulasi data absensi seluruh "abdi negara" di instansi tersebut. Setiap tanggal tertentu, saya sering melihat proses manipulasi absensi tersebut, karena dilakukan di tempat terbuka.
Saat berdiskusi itu, saya menanyakan pendapat rekan saya tersebut dalam menyikapi kebobrokan absensi. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya hal tersebut merupakan perbuatan yang salah, tapi ia tidak bisa berbuat banyak, karena "sistemlah" yang telah membuatnya demikian. Ia juga berusaha untuk selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal. Namun ia juga mengakui, sesekali pernah mengalami keterlambatan.
Ketika saya katakan, "Bukankah itu haram?" Ia tidak menampiknya. Tapi sekali lagi ia menegaskan, bahwa ia tidak bisa berbuat banyak, apalagi ia masih tergolong sebagai junior. Diskusipun berakhir, karena saya tidak mau memperpanjang topik ini. Cukuplah ini menjadi pelajaran bagi saya. Bagaimanapun teguhnya seseorang supaya terhindar dari yang haram, bisa sirna karena berada dalam lingkungan yang bobrok.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.