Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Jalan Hidayah
21 Oktober 2012 pukul 12:00 WIB
Antara Pengemis dan Pedagang Asongan
15 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Kok Mereka Akrab Sekali?
9 Oktober 2012 pukul 08:00 WIB
Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga
3 Oktober 2012 pukul 11:00 WIB
Bukankah itu Haram?
27 September 2012 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 27 Oktober 2012 pukul 09:00 WIB

Agar Qurban Lebih Terasa Manfaatnya

Penulis : Mujahid Alamaya

Hari Raya Idul Adha telah tiba, dimana ummat muslim sangat disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuan-Nya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, karena qurban hakikatnya merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Selama ini, mungkin kita yang tinggal di kota lebih sering berqurban di sekitar tempat tinggalnya. Hal seperti ini memang tidak dilarang. Tapi alangkah lebih baik lagi jika kita berqurban, memikirkan manfaat dari apa yang kita qurbankan. Sejauh mana manfaat bagi penerima daging qurban jikalau kita berqurban di sana? Jangan salah sasaran.

Sebagai gambaran, 50% dari total rumah di wilayah tersebut salah satu penghuninya berqurban, maka sudah dipastikan di wilayah tersebut banyak hewan qurban yang terkumpul. Jika semua hewan qurban disembelih dan disebarkan di wilayah tersebut juga, maka yang dapat menikmati daging qurban hanya penduduk di wilayah itu saja.

Memang tidak salah dan tidak ada larangan jika gambaran tersebut terjadi. Tapi, akan lebih baik jika kita memikirkan bagaimana penduduk di wilayah lain, apalagi di pelosok sana, saat hari qurban. Apakah mereka berqurban seperti kita? Atau minimal, apakah mereka dapat menikmati daging qurban seperti kita? Mari sejenak kita pikirkan hal ini.

Pada hari qurban, mungkin kita akan mendapatkan jatah daging qurban yang banyak. Dalam satu rumah, bisa terkumpul 3 kg daging, bahkan lebih. Kalau kita sudah biasa makan daging, maka daging bukan merupakan makanan yang mewah. Mungkin kita bakal pesta pora dengan membuat sate, gule, maupun jenis masakan daging lainnya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal jauh di pelosok sana? Akankah mereka melakukan dan merasakan hal yang sama seperti kita? Mungkin ya, mungkin tidak. Banyak di antara mereka yang mungkin belum atau jarang mendapatkan daging pada saat qurban. Maka, masihkah kita biarkan hewan qurban menumpuk di sekitar kita?

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aryani | Karyawan Swasta
Salam kenal buat semua teman-teman penghuni KotaSantri.com. Sempat tau situs ini dari beberapa artikel yang dikirim oleh teman ke inboxQu. Tetapi, setelah dibuka banyak yang berguna buatQu. Semoga terus bermanfaat bagi sesama.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1064 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels