|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Sabtu, 27 Oktober 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Hari Raya Idul Adha telah tiba, dimana ummat muslim sangat disunnahkan untuk berqurban pada hari tersebut. Berqurban sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kita terhadap ketentuan-Nya yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, karena qurban hakikatnya merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Selama ini, mungkin kita yang tinggal di kota lebih sering berqurban di sekitar tempat tinggalnya. Hal seperti ini memang tidak dilarang. Tapi alangkah lebih baik lagi jika kita berqurban, memikirkan manfaat dari apa yang kita qurbankan. Sejauh mana manfaat bagi penerima daging qurban jikalau kita berqurban di sana? Jangan salah sasaran.
Sebagai gambaran, 50% dari total rumah di wilayah tersebut salah satu penghuninya berqurban, maka sudah dipastikan di wilayah tersebut banyak hewan qurban yang terkumpul. Jika semua hewan qurban disembelih dan disebarkan di wilayah tersebut juga, maka yang dapat menikmati daging qurban hanya penduduk di wilayah itu saja.
Memang tidak salah dan tidak ada larangan jika gambaran tersebut terjadi. Tapi, akan lebih baik jika kita memikirkan bagaimana penduduk di wilayah lain, apalagi di pelosok sana, saat hari qurban. Apakah mereka berqurban seperti kita? Atau minimal, apakah mereka dapat menikmati daging qurban seperti kita? Mari sejenak kita pikirkan hal ini.
Pada hari qurban, mungkin kita akan mendapatkan jatah daging qurban yang banyak. Dalam satu rumah, bisa terkumpul 3 kg daging, bahkan lebih. Kalau kita sudah biasa makan daging, maka daging bukan merupakan makanan yang mewah. Mungkin kita bakal pesta pora dengan membuat sate, gule, maupun jenis masakan daging lainnya.
Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal jauh di pelosok sana? Akankah mereka melakukan dan merasakan hal yang sama seperti kita? Mungkin ya, mungkin tidak. Banyak di antara mereka yang mungkin belum atau jarang mendapatkan daging pada saat qurban. Maka, masihkah kita biarkan hewan qurban menumpuk di sekitar kita?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.