|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|





Rabu, 20 Juni 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Aku tanya, zaman ini siapa yang tidak punya akun jejaring sosial sejenis Twitter, Facebook, Plurk, dan sebagainya? Hampir semua orang punya, agar mereka dianggap eksis dalam percaturan dunia maya.
Namun, sadarkah bahwa keeksisan di dunia maya tersebut telah mengalahkan eksistensi pada dunia nyata yang jauh lebih real? Aku mendapat protes karena tak pernah membalas mention orang di Twitter, tak pernah membalas komentar di Facebook, padahal hampir setiap hari saya berhubungan dengan pihak-pihak tersebut. Is our conversation is not enough? Apa harus semua jejaring komunikasi dan sosial saya mention dan reply? Itulah yang aku maksud dengan "racun" dalam jejaring sosial.
Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah, kala anda komentar dalam Twitter/Facebook, maka komentar yang seharusnya berhenti di dunia maya malah berlanjut ke dunia nyata bahkan bisa tambah runyam, dan aku pribadi membenci itu. Oleh karena itu, aku juga terkadang komentar di Plurk yang mana di sana tak ada seorangpun teman-teman yang kukenal secara pribadi, maka aku bebas komentar macam-macam di sana.
Aku pun berterus terang bahwa aku bukan termasuk tipe orang yang terlalu bingung jika sehari-dua hari tak berhubungan dengan hape. It is really fine for me, I have a live, a nice live, and i am happy with it. Lalu kenapa harus terlalu berafiliasi dengan jejaring sosial?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.