|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|





Jum'at, 8 Juni 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Bagaimana sebuah rumah dapat terbentuk? Rumah terbentuk karena pekerjanya setiap hari bekerja. Mulai dari membangun fondasi, membangun dinding, membangun ruangan, membangun atap, hingga akhirnya selesailah sebuah rumah. Bagaimana sebuah air dapat melubangi batu? Batu berlubang karena air terus menerus menetes di permukaan batu. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun, hingga timbullah lubang di batu. Bagaimana sebuah benih dapat menjadi pohon yang menjulang tinggi? Benih terus bertumbuh menjadi tunas, dari tunas menjadi pohon muda, dan akhirnya menjadi pohon tinggi. Semua terbentuk karena konsistensi yang positif.
Mungkin anda pernah melihat skema investasi sejumlah tertentu per bulan selama 20 tahun yang pada akhirnya anda akan punya uang bersih Rp. 1 milyar. Ya, itu akan terjadi asal kita konsisten dalam berinvestasi.
Ustadz Salim A. Fillah berkata, "Sebuah buku awalnya terbentuk dari kalimat. Dari kalimat terbentuklah paragraf. Dari paragraf terbentuklah satu halaman. Dari satu halaman terbentuk 100 halaman, dan pada akhirnya jadilah sebuah buku. Buku terbentuk karena konsisten menulis."
Kekuatan konsistensi akan melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita sendiri, dan pada dasarnya seluruh pekerjaan kita harus dilakukan dengan konsisten sehingga hasilnya maksimal. Sayangnya dewasa ini kita terserang budaya serba instan. Praktek korupsi, pesugihan, atau pembobolan rekening terjadi karena ingin kaya dengan instan. Padahal menjadi orang kaya pun perlu konsistensi dalam berbagai hal, misal konsisten dalam berinvestasi, konsisten belajar, konsisten mempertahankan bisnis/pekerjaannya, dan sebagainya.
Contohlah teladan kita, Rasulullah SAW yang konsisten memberi makan kepada seorang Yahudi tua. Walaupun Yahudi tua itu terus menerus mencaci Islam dan Rasulullah, namun ia tetap konsisten menyuapinya, sampai akhirnya Rasulullah meninggal dan masuk Islam-lah seorang Yahudi tua tersebut. Tidak hanya itu, Rasulullah konsisten untuk mendakwahkan Islam hingga akhirnya tersebar ke seantero dunia. Konsistensi melahirkan keberhasilan. Konsistensi melahirkan keistimewaan. Konsistensi melahirkan perilaku. Mari konsisten dalam kebaikan dan jauhilah sikap instan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.