|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|





Senin, 4 Juni 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Siapa yang dulu sewaktu SD sering main ejek-ejekan nama bapak? Menyapa teman kita dengan sapaan, "Woi, Pak Budi (nama bapak si teman bernama Budi)!" Aku sendiri pernah, tapi alhamdulillah tak terlalu menghiraukan.
Mainan sewaktu SD terkadang diulang lagi kala kita remaja. Tapi konteksnya sudah beda. Dulu waktu SD ejek nama bapak, sekarang lebih kepada membanggakan bapak. Mungkin tak sadar, kita sering menilai teman kita melalui pangkat bapaknya. "Pantas dia bisa masuk sekolah mahal, bapaknya pejabat di PT Anu; Pantas dia diterima kerja di sana, bapaknya komisaris di perusahaan itu; Pantas bininya cantik, keluarganya kaya, bapaknya presiden direktur Anu; Pantas saja ... Bapaknya ..."
Begitu terus. Bapaknya, bapaknya, dan bapaknya.
Salahkah? Tidak! Alhamdulillah kalau kita berasal dari keluarga yang berkecukupan, syukurilah, karena banyak saudara kita yang berasal dari keluarga yang kurang. Namun, wajarkah kita sebagai pemuda masih mau numpang di balik ketiak bapak kita? Beranikah kita menilai teman kita berdasar dirinya, bukan bapaknya? Beranikah kita menilai diri kita berdasar atas prestasi, pencapaian, dan karya kita, bukan jabatan bapak kita?
Aku teringat dengan, entah syair atau hadits (maaf, lupa), bunyinya kira-kira begini, "Bukanlah pemuda sejati yang mengatakan, "Ini bapakku!", akan tetapi mereka yang mampu berkata, "Inilah aku!"."
Nah, sekarang bagi yang pemuda, beranikah kita menilai diri kita atas dasar pencapaian diri kita dan bukan bapak kita? Beranikah mengatakan, "Inilah aku, lelaki yang anu dan anu." Bagi diri kita sendiri, mampukah kita melihat siapa pemuda sejati itu? Mereka bukanlah pemuda yang masih sembunyi di balik ketiak bapaknya, tapi mereka yang sudah mampu independen dari bapaknya.
Yuk, keluar dari ketiak bapak kita (tanpa mengurangi jasa beliau) dan tunjukkan kepada dunia, "Inilah aku, pemuda yang masih mencari nafkah, pemuda yang bisa hidup mandiri, bahkan aku bisa meringankan beban orangtua."
Itu baru pemuda!
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menyinggung jasa bapak kita yang telah bekerja keras untuk menafkahi keluarga, namun lebih untuk menyinggung kita yang seringkali membanggakan pekerjaan bapak kita hanya untuk menunjukkan siapa kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.