|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|





Ahad, 10 Juni 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Seringkah mendengar cerita kalau di Mekkah atau Madinah, jika adzan berkumandang seluruh pedagang meninggalkan barang dagangannya dan bersegera ke masjid? Luar biasa ya, bagaimana para pedagang lebih memilih berdagang dengan Allah daripada dengan dunia, tentunya itu diperlukan keimanan yang teguh dan luar biasa. Di Indonesia, saya pernah baca kalau KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym pernah melakukan hal yang serupa. Ketika beliau berdagang bakso, datanglah suara adzan dan Aa langsung pamit sama pelanggan mau shalat dulu. Jika mau bayar, dipersilakan meninggalkann uang di meja. Simpel ya.
Nah, inipun kejadian nyata yang terjadi di lingkungan saya. Di sebuah kampung, namanya kampung Prayan Kulon, ada seorang pedagang angkringan yang jualan dari jam 1 siang sampai jam 1 malam. Nah, tiap jam shalat Ashar tiba, dia kumandangkan adzan, ikut shalat berjama'ah, dan meninggalkan barang dagangannya. Shalat maghrib, membuat jama'ah gelombang kedua. Begitu pula shslat Isya, dikerjakan usai berdagang. Namun tetap saja model pedagang ini masih langka. Tentulah berdagang dengan Allah jauh lebih untung daripada berdagang dengan manusia. Dijamin deh, rezekinya tak akan lari ke mana. Kalaupun ada pembeli yang curang dengan tidak membayar atau bayarnya kurang kala si pedagang shalat, hal itu tidak akan membuat si pedagang miskin, kan Allah sudah janji tidak akan rugi siapapun yang berdagang dengan Dia.
Kejadian serupa pun pernah dialami Hakim. Waktu itu Hakim kerja sebagai asisten dosen di kampus saya. Tiap jam shalat tiba, Hakim berusaha sebisa mungkin untuk ke luar kantor dan melaksanakan shalat. Padahal saat itu, pak dosen sedang dalam satu kantor bersama Hakim. Namun Hakim diam-diam meninggalkan kantor. Walhasil, baik-baik saja tuh, paling cuma dicari oleh dosennya. Malah setelah Hakim mengundurkan diri jadi asisten, dia bisa buka bisnis yang memungkinkan untuk ditinggal kala waktu shalat memanggil. Rasanya sayang, panggilan kasih sayang-Nya dilewati begitu saja. Coba kalau perempuan yang panggil, langsung deh disambut dengan suka cita.
Yuk kita berbenah diri, dengan memperhatikan panggilan-Nya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.