|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|





Rabu, 2 Mei 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Sepanjang Ahad kemarin, saya mendengar dua komentar terkait usaha yang saat ini sedang saya jalankan. Memang benar tidak mudah. Selama dua bulan saya jalankan, ternak bebek banyak yang mati. Hampir separuh dari jumlah awal sudah mati, sehingga usaha ternak di periode pertama ini dipastikan rugi.
Beberapa waktu lalu, saya pernah dinasihati oleh salah seorang peternak bebek yang memang sudah besar dan namanya dikenal seantero Yogyakarta, atau mungkin nasional. Beliau berkata, “Mas, kalau bebek itu ada musim harga tinggi dan rendahnya loh. Sebaiknya kamu mulai ternak di saat harganya sedang tinggi.” Dalam hati saya, “Wah, berarti ternak bebek ini bisa untung besar atau kecil, bahkan rugi ya.”
Bisnis mana yang tidak punya resiko? Rasanya hamper belum ada bisnis yang dikatakan bebas resiko. Saya pun sempat kecil hati ketika jalani ternak bebek ini. Apalagi mendengar bahwa pakannya mahal, jualnya susah, harganya naik-turun tidak tentu. Saya akui hal tersebut memang benar, jadi bagi siapapun yang mau memulai ternak bebek, ketiga hal tersebut bisa jadi penurun semangat.
Lantas, bagaimana menyikapinya? Saya ingat kembali impian saya untuk peternakan bebek. Impian tersebut adalah bisa memasyarakatkan bebek sebagaimana ayam potong yang memang sudah populer. Impian berikutnya adalah ingin menggairahkan kembali pertanian Indonesia. Belum lagi dengan peluang-peluang yang masih sangat terbuka untuk bebek. Dari situlah saya kembali menemukan semangat.
Mendengar memang perlu, apalagi nasihat dari orang yang sudah ahli di bidangnya. Tapi dengarlah lebih banyak dari berbagai sumber, teruskan meng-upgrade ilmu, dan lihatlah peluang yang terbentang. Kalau ternyata tidak ada peluang, ya buat saja peluang! Tahu tidak, kenapa saat ini telur ayam broiler lebih populer daripada telur ayam kampung? Sejak tahun 70-an, Bob Sadino dan istri berusaha untuk memperkenalkan telur yang memang lebih besar dari telur ayam kampung. Apakah masyarakat menerima produk baru tersebut? Tidak! Namun kengototan Bob Sadino untuk membuat peluang baru itulah yang membuat telur ayam broiler saat ini lebih banyak beredar.
Dengarlah suara dari siapapun itu, namun pilahlah mana suara yang memberi dukungan dan suara yang memberi masukan. Kritik sekalipun pedas, namun ambillah saripati kebenarannya (jika ada). Pujian sekalipun manis, namun berhati-hatilah agar kita tak terbuai dan lengah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.