|
HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
|





Sabtu, 14 April 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Saya sudah lama membaca buku "Andai Buku Itu Sepotong Pizza" karya Hernowo, namun baru ngeh betapa dahsyatnya pengiasan yang digunakan oleh penulis yang langsung mendapat tempat di hati pembaca dengan bukunya tersebut. Bagaimana tidak, buku yang merupakan investasi leher ke atas, dibandingkan dengan makanan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Itu adalah perbandingan yang benar-benar sempurna dalam membangkitkan minat membaca seseorang. Andai Buku Itu Sepotong Pizza.
Mulai hari ini, Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah akan menggelar Perlombaan Marching Band antar sekolah se-Sumatera. Acara yang memperebutkan Piala Gubernur, Menpora, dan Best of The Best Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah ini diikuti lebih dari 50 kontingen yang berasal dari berbagai daerah. Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau. Dengan jumlah masing-masing kontingen mencapai 60 orang, gawean yang digelar dua hari tersebut menjadikan suasana pesantren semakin ramai.
Nah, dalam keramaian tersebut, saya dan teman-teman yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Ar-Raudhatul Hasanah (IKRH) menggelar bazar dengan menjajakan makanan, minuman, baju, atau buku. Semua dagangan itu berasal dari alumni-alumni pesantren sehingga penjualnyapun orang-orang pesantren juga. Walhasil, selain memancing minat dari peserta-peserta lomba, stand bazar kami juga menarik simpati dari santri-santriwati yang masih mondok.
Satu hal yang menarik adalah, dan ini berkaitan erat dengan apa yang saya sampaikan di awal, hari pertama penjualan yang hanya menyediakan waktu sekitar 3 jam --ba'da isya' hingga waktu tidur santri (pukul 22.00 WIB)-- makanan yang disediakan dalam jumlah besar hanya tersisa sedikit. Itupun yang jenis nasi. Adapun jenis cemilan dan makanan kecil seperti roti bakar, ludes. Bahkan, masih ada yang mencari-cari meskipun telah dinyatakan habis total. Saat itu, saya melihat makanan ringan yang mendatangkan keuntungan yang berat.
Buku? Ah, sepertinya buku jauh lebih berat dari sekedar makanan ringan atau minuman. Sehingga menyusahkan beberapa orang untuk membawanya. Bukankah setiap orang ingin kemudahan dan kenikmatan? Apalagi kurangnya makanan, selain mudah membawanya --namanya saja makanan ringan, tentu ringan bukan?-- juga mendatangkan kenikmatan. Berbeda dengan pandangan sebagian orang terhadap buku, tidak hanya berat akibat pengaruh halaman atau isi di dalamnya, juga tidak terlalu nikmat untuk dijadikan cemilan.
Tidak benar memang kalau hal di atas kita jadikan patokan penilaian pandangan setiap orang mengenai buku. Tidak semua orang menjadikan buku sebagai beban hidup yang tentunya membebani. Di antara beragamnya pecinta kuliner tetap ada pecinta tulisan dan ide. Kita harus optimis akan hal tersebut. Toh, meskipun salah --saya tidak berharap akan hal ini--, keoptimisan akan menghasilkan kemungkinan untuk memperbaiki, meskipun waktunya akan lama. Berbeda dengan sikap pesimis, yang pasti tidak akan melahirkan perbaikan karena sikap itu yang sebenarnya harus diperbaiki.
Bicara tentang buku dan makanan, dalam soal rasa, pengecapnya saja sudah berbeda. Jika makanan dapat dirasa lewat lidah sehingga melahirkan rasa manis, pahit, asam, pedas, asin, dan lainnya, buku dapat dirasa lewat pikiran. Pikiran yang menjadi proses dialog antara pembaca dan penulis. Rasa yang dilahirkan tentu bukan manis, pahit, asam, pedas, dan asin sebagaimana di lidah. Tetapi dalam pikiran! Sekali lagi, PI-KI-RAN. Pikiranlah yang akan mengolah bumbu-bumbu bacaan.
Kabar baiknya, buku berdampak lebih luas lewat rasanya. Jika makanan berdampak pada kesehatan jasmani, lewat gizi dan kandungan di dalamnya, maka buku berdampak pada kesehatan seluruh jasmani dan rohani. Hal yang menarik adalah, kesehatan rohani dapat berpengaruh kepada kesehatan jasmani sehingga apa yang dirasakan rohani akan dirasakan pula oleh jasmani. Berbeda dengan kesehatan jasmani yang tidak begitu berpengaruh kepada kesehatan rohani.
Buku dan makanan. Menyandingkannya sebagai permisalan sebagaimana yang dilakukan Hernowo, tentu, merupakan gebrakan yang hebat dalam penyebaran virus gila baca. Tak main-main, pendekatannya lewat kebutuhan paling fundamental! Makanan! Siapa coba yang ga' suka makanan!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.