|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|

Kamis, 26 Mei 2011 pukul 09:45 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Saat menuliskan tulisan ini, saya sedang berada di perjalanan menuju Padang Sidimpuan, salah satu kota di Sumatera Utara. Dari Medan, perjalanan akan memakan waktu 10 jam jika tak ada halangan dengan kecepatan rata-rata 80-100 km/jam. Meskipun jalannya tidak selalu mulus, kebanyakan jasa angkutan akan berlari sedemikian kencang. Paling lambat, jasa angkutan yang memakai mobil jenis L-300 seperti yang saya gunakan malam ini akan sampai 12 jam setelah keberangkatan dari Medan.
Namun, sepertinya malam ini agak terlambat, meski saya tak mendo'akan demikian. Persoalannya lumrah! Di tengah jalan mobil kami terjebak macet panjang. Padahal, tiga minggu yang lalu saya baru melewati jalan ini dan lancar-lancar saja.
Apa pasal? Rupa-rupanya macet kali ini disebabkan oleh jembatan yang sedang diperbaiki. Tumpukan batu menjadi penghalang kendaraan tuk lalu-lalang. Bunyi klakson bersahut-sahutan. Ada juga yang menimpali dengan kata-kata kotor, sumpah serapah.
Ketimbang ikut menikmati keadaan yang menjenuhkan itulah, saya menulis tulisan ini. Sembari merenung apa hikmah yang bisa diambil dari ini semua, saya pun mulai bertanya-tanya, APA SEBENARNYA GUNA JEMBATAN?
Sepengetahuan saya, salah satu guna jembatan adalah untuk memperlancar jalannya transportasi, selain tentunya tuk memperpendek waktu tempuh.
Dahulu, menuju Madura dari Surabaya harus menggunakan kapal. Waktu yang digunakan lebih dari 30 menit -kalau tidak salah 40 menit. Sekarang, sejak adanya jembatan Suramadu, waktu tempuh bisa dipersingkat menjadi kurang dari 30 menit atau -kalau tidak salah lagi- antara 15-20 menit. Jembatan telah memperlancar urusan perjalanan.
Namun, kenapa saat ini saya malah terjebak macet karena jembatan? Telah berubah fungsikah?
Tidak! Tentu tidak. Itu hanya karena jembatannya belum selesai saja. Jika telah selesai, saya yakin arus lalu lintas di sini akan lancar, bahkan lebih lancar dari sebelumnya.
Saya pun teringat dengan sebuah tulisan saya yang akan muncul di majalah MATLA, majalah kreatifitas santri-santriwati Ar-Raudhatul Hasanah, Medan. Tulisan yang akan muncul pada rubrik MOTIVASI itu memuat dua kisah santri yang merasa telah melakukan kesalahan, santri pertama telah salah karena dimasukkan ke dalam pesantren dan santri kedua telah salah karena dikeluarkan dari pesantren.
Permasalahannya sama, mereka berdua masih melihat apa yang terjadi di awal tanpa berpikir apa yang akan terjadi setelahnya. Mereka merasa telah melakukan kesalahan karena telah berada pada suatu keadaan yang mereka pun belum merasakan 'inti' dari keadaan itu sendiri.
Rupa-rupanya, kita sering seperti seperti supir yang berteriak tak tentu arah sambil membunyikan klakson saat macet akibat perbaikan jembatan. 'Kenapa aku seperti ini? Aku ingin keluar dari kampus ini dan pindah ke kampus lain. Aku ingin terlepas dari semua tugas ini dan berpindah ke tugas itu! dan seterusnya.' Padahal, jembatan belum selesai, perjuangan masih panjang. RASAKAN DULU 'INTINYA', BARU NIKMATI KEASYIKANNYA!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.