|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|



Rabu, 20 Juli 2011 pukul 09:20 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Mendengar berita duka mengenai berpulangnya KH. Zainuddin MZ, mengingatkan saya pada sekeping cerita lama. Ini kisah saat saya masih duduk di kelas tiga pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, yang merupakan pondok pesantren yang mengenalkan saya pada nilai-nilai kehidupan dengan berbagai aktivitas. Termasuk kegiatan pidato atau yang lebih dikenal dalam istilah pesantren sebagai muhadharah.
Dua tahun pertama di pesantren, kelas satu hingga kelas dua, kegiatan muhadharah bukanlah kegiatan yang begitu menyenangkan bagi saya. Bahkan cenderung menakutkan. Saya sering mencari-cari alasan untuk tidak menghadiri kegiatan itu, mulai dari berpura-pura sakit, meminta untuk menjadi penjaga malam di pesantren (haris lail), hingga ikutan teman menemui orangtua mereka. Cara-cara seperti itu lebih sering gagal saya lakukan, karena barangkali saya tidak terlalu meyakinkan untuk ber-acting jika ditanya oleh para pengurus kegiatan tersebut, sehingga selalu ketahuan telah berpura-pura. Jika sudah ketahuan, maka saya akan menjadi bulan-bulanan dalam kegiatan tersebut. Saya akan disuruh untuk berpidato sejak saya masuk ruangan hingga akhirnya kegiatan tersebut bubar, sekitar satu sampai satu setengah jam!
Bayangkan saja, untuk berbicara sepuluh sampai lima belas menit saja, saya sudah kehilangan keseimbangan karena getaran yang terjadi di dua lutut saya, apalagi sampai satu jam. Saya tidak dapat membayangkan betapa basahnya muka dan baju saya saat itu, yaitu ketika butir-butir keringat mengucur deras. Amat deras. Bersyukur jika saya tidak sampai menitikkan air mata bahkan mengompol di depan umum saat itu.
Singkat cerita, dua tahun perawakan muhadharah yang begitu menyeramkan berubah menjadi begitu mengasyikkan. Saya menjadi begitu rajin untuk mengikutinya. Bahkan, pada tahun itu, saya pun mengikuti perlombaan pidato antar santri dan santriwati. Tahap pertama, seleksi di kelas masing-masing, saya dinyatakan lolos. Tahap selanjutnya, antar gedung, saya pun lolos. Saya mencapai tahap akhir, yaitu tahap final di mana setiap peserta yang lolos harus berpidato di depan lebih dari 1.500 orang santri dan santriwati.
Itulah pengalaman yang paling mengesankan. Begitu indah tak terlupakan. Saya menjadi juara satu saat itu. Bahkan dengan pengalaman tersebut, saya pun dapat mengikuti perlombaan tingkat provinsi setahun kemudian. Begitu seterusnya, hingga di kampus pun, pada tahun pertama perkuliahan, saya menjadi juara satu Audisi Da'i-Dai'ah IAIN Sunan Ampel.
Apa yang menjadi penyebab itu semua?
Saat itu Bulan Ramadhan. Suatu malam, saat saya kelas tiga, saya berkunjung ke rumah nenek. Itu kunjungan pertama saya seorang diri karena biasanya ditemani oleh ayah ataupun ibu. Kunjungan itu bertepatan pada malam acara tabligh akbar KH. Zainuddin MZ di televisi. Saya tidak terlalu ingat apakah itu siaran langsung atau tunda karena saya pun lupa televisi apa yang menyiarkan acara tersebut. Namun, intinya, saya dan nenek menyaksikan acara itu selepas shalat tarawih.
Nenek tiba-tiba mengangis. Saya tak tahu apa penyebabnya.
"Kamu harus bisa menjadi seperti itu, Mukhtar!"
Entah mengapa, saat itu, saya merasakan aliran darah saya begitu kencang mengalir di dalam tubuh. Dapatkah aku menjadi seorang pembicara hebat seperti Sang Singa Podium? Padahal, untuk berbicara sepuluh sampai lima belas menit saja saya sudah sangat gemetar saat itu. Bukan sepuluh sampai lima belas menit! Tetapi untuk berdiri saja di depan umum saya sudah gemetaran, meski tanpa kata-kata!
"Zainuddin itu telah ditinggal oleh orangtuanya sejak ia kecil. Tapi ia tidak pernah menyerah dan terus belajar untuk bisa mencapai cita-citanya. Kamu pun jangan pernah menyerah meski telah ditinggal oleh orangtuamu. Kamu harus bisa bangkit seperti dia."
Saya terdiam. Rupa-rupanya nenek teringat sosok ayah dan ibu.
***
Kita tentu akan sepakat bahwa ada banyak cara untuk belajar. Kegiatan itu bukan hanya bisa dilakukan di sekolah saja. Bukan juga di rumah dengan cara mengerjakan PR atau tugas dari bapak dan ibu guru. Segala aktivitas kita adalah pembelajaran. Manusia adalah makhluk pembelajar.
Saya banyak belajar dari sosok Da'i Sejuta Umat yang telah tiada. Bukan hanya dari tausyiah dan ceramahnya, namun juga dari semangat hidupnya. Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa'afihi, wa'fu 'anhu, Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.