|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|


Rabu, 15 Juni 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Jadi, ceritanya, saat menuliskan tulisan ini, saya berada di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Namanya ruang tunggu, ya pastilah, yang dikerjakan orang-orang di sini menunggu. Termasuk saya yang menunggu pesawat yang akan mengantarkan saya ke Medan. Katanya sih, pesawat itu ditunda penerbangannya selama 90 menit. Semoga tidak pakai tambahan waktu.
Padahal, sebelum mengetahui akan delay-nya jadwal keberangkatan, bayangan akan pertemuan dengan para ustadz dan ustadzah di pesantren sudah bermain-main di pikiran. Belum lagi wajah keluarga dan sanak saudara. Seakan-akan, kalau mata saya terpejam waktu berkedip, mereka sudah berada di hadapan saya. Namun, kedipan mata yang cuma sebentar menyadarkan saya bahwa ini ruang tunggu, bukan pesantren atau rumah dan kampung halaman tempat mereka berada. Apa saya harus tidur supaya mereka lebih lama terlihat ya?
Namun demikian, saya hanya ingin merasakan hal positif saja. Daripada menggerutu memikirkan tertundanya jadwal bertemu mereka, lebih baik saya memikirkan bagaimana bisa memetik pelajaran dari kejadian ini.
Walhasil, saya teringat dengan apa yang pernah saya alami di hari-hari pertama masuk pesantren. Sebagaimana lazimnya, saat itu saya begitu sedih ketika ditinggal ayah dan ibu. Sore ditinggal, malam menelepon ke rumah. Tapi nggak pakai nangis!
Seminggu ditinggal, ayah ibu datang. Ajaib, saya merasakan pelukan terhangat dari mereka saat itu. Pokoknya sulit digambarkan melalui kata. Sangat-sangat terasa. Mulai saat itulah, saya tidak lagi memanggil ayah dan ibu via telepon untuk datang ke pesantren. Saya hanya menunggu saat mereka datang.
Semakin lama datangnya, semakin hangat pertemuan. Saat itulah saya diajarkan sebuah hadits rasul yang berbunyi, lamanya pertemuan akan menambah kerinduan.
Jadi, ya tak apalah menunggu saat ini. Semoga pertemuan nanti menjadi lebih hangat. Saya mencoba menghibur diri dengan itu sembari mengambil jatah makan yang disediakan pihak pesawat sebagai permintaan maaf.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.