|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Selasa, 16 Agustus 2011 pukul 09:55 WIB
Penulis : Nurfaridah
Sarapan pagi adalah agenda rutin kami (saya dan suami) setiap pagi (sebelum Ramadhan), asalkan pada hari itu kami sedang tidak melakukan shaum.
Jam menunjukkan pukul 07.30 WIB.
"Tulittt.... tulittt...," terdengar suara ringtone handphone milik saya. Setelah saya angkat, terdengar suara beberapa sahabat saya di kampung. Memang saat itu kami sedang melakukan panggilan telepon secara paralel. Sarapanpun tertunda, karena kami asyik mengobrol menanyakan kabar masing-masing. Sampailah kami pada pembahasan seorang sahabat akrab saya, sebut saja si A. Dikabarkan si A akan melamar gadis C. Padahal belum lama ini A sedang dekat dengan si B. Saya terkejut bukan main mendengar kabar tersebut.
Pembicaraan di teleponpun semakin seru, terdengar beberapa teman sedang sewot dengan kelakuan si A. Mereka dan sayapun membanding-bandingkan gadis B dan C. Karena kami merasakan bahwa si B adalah gadis yang sangat cocok dengan A dari segi usia dan sopan santunnya sebagai seorang muslimah.
Belum puas dengan membahas si A, saat kami lanjutkan sarapan pagi, saya mencoba melontarkan pertanyaan kepada suami saya perihal kelakuan si A yang grasa-grusu dalam memilih jodoh. Namun jawaban yang diberikan suami saya benar-benar membuka kesadaran saya.
“Bi, masa' A mau melamar C? Kan si B lebih cocok dan juga seorang muslimah yang santun,” Kata saya pada suami.
“Umi ini bagaimana sih, kok jadi sok tahu gitu? Baik dan cocok menurut umi belum tentu baik dan cocok di sisi Allah. Kalau kita kembalikan kepada Allah, pasti semua ada hikmahnya,” begitulah kata-kata suami yang membuat saya sadar bahwa saya masih terlalu jauh untuk berpikir bahwa hak Allah itu nyata.
Jangankan mereka yang masih melakukan ta'aruf, yang sudah bertunangan atau dikhitbah saja bisa retak dan gagal untuk sampai ke pernikahan. Allah Mahatahu.
Memang manusia boleh berencana dan merencanakan, tapi Allah jualah muara akhir dengan segala kehendakNya.
Demikianlah kita, kadang terlalu mudah memutuskan perkara atau suatu hal yang kadang jauh di atas kemampuan cara berpikir kita. Seperti halnya panas, hujan, mendung, dan berbagai macam keadaan yang kadang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan, senantiasa membuat kita berkeluh kesah dengan perasaan yang resah. Padahal Allah menyembunyikan hikmah bagi orang yang qana'ah dalam menerima takdir Allah dan sepatutnyalah kita berserah diri kepada Allah, karena hak Allah itu nyata.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.