|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Rabu, 3 Agustus 2011 pukul 09:00 WIB
Penulis : Nurfaridah
Alhamdulillah, sekiranya Allah masih memberikan saya panjang umur untuk dapat meraih kembali bulan suci Ramadhan tahun ini. sungguh ini adalah nikmat yang luar biasa.
Malam ini ketika kami hendak sahur, suami menyempatkan menelepon keponakan kami yang baru kelas 1 SD, saat itu ia belum terbangun dari tidurnya. Namun sebelum ia memejamkan mata, ia sempat berpesan kepada ayah dan ibunya agar dibangunkan waktu sahur. Ia sangat bersemangat melakukan ibadah puasa meski tengah hari ia akan berbuka dan melanjutkannya hingga maghrib tiba.
Kadang saya sering tertawa sendiri, jika teringat akan masa kecil saya. Untuk belajar berpuasa, orangtua saya sangat fleksibel. Waktu itu saya masih berusia delapan tahun, tepatnya kelas dua SD, saya harus berpuasa meski tengah hari harus berbuka atau kami sebut puasa bedhuk (dzuhur), untuk kemudian kembali berpuasa sampai mahgrib tiba. Persis seperti yang dilakukan oleh keponakan saya.
Saking semangatnya puasa di bulan puasa, saya dan teman-teman sering pamer akan puasanya. Dan jika ada yang tak berpuasa, maka kamipun dengan serta merta mengucilkan dan mengolok-oloknya (masa kanak-kanak yang lucu).
Saat itu ada salah seorang teman yang dengan bangganya ia mengatakan bahwa; kemaren ia mampu berpuasa seharian penuh tanpa berbuka di siang harinya. Ya, namanya juga anak-anak, akhirnya saya jadi terprovokasi untuk berpuasa seharian penuh seperti dirinya agar saya dikatakan sebagai anak yang kuat berpuasa. Tapi sayang, ketika waktu hendak ashar, karena kecapaian bermain, saya merasakan haus dan lapar yang sangat.
Akhirnya saya memberanikan diri bertanya pada nenek, "Nek, biasanya kan Ade puasa bedhuk, berarti ada puasa ashar dong?" suara saya memelas meminta simpati dari nenek agar diizinkan berbuka pada waktu ashar tersebut. "Kenapa? Ade mau puasa ashar? Boleh, tapi besok harus belajar seharian ya? Dan maennya harus dikurangi biar kuat ya." akhirnya saya kecil senang dan segera berbuka puasa pada waktu ashar dan kembali berpuasa hingga maghrib.
Namun, sejak itu saya terus berpuasa seharian hingga saya baligh dan mengerti arti puasa yang sesungguhnya. Terima kasih nenek, meski engkau telah pergi ke alam yang berbeda, semoga engkau mendapatkan ampunan dari Allah yang Mahatahu kebaikan hambanya walau hanya sebiji zarah. Amin.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.