|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Sabtu, 25 Juni 2011 pukul 10:20 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Bukan, tulisan ini tidak berhubungan sama sekali dengan acara yang katanya ada di Trans 7, dengan judul sama “Cipika Cipiki”. Di mana dalam cerita menampilkan tokoh single mom yang humoris, dengan rumah yang selalu didatangi para sahabat untuk bergosip ataupun bercurhat ria.
Cipika cipiki yang ingin ditulis di sini, tak lebih dari sekedar cium pipi kanan kiri yang biasa dilakukan kaum wanita saat bertemu. Jabat tangan, lalu muuahhh, cipika cipiki, tak lupa berpelukan dan senyum. Rasanya dengan berjabat tangan ala cipika cipiki lebih mantap. Ada semacam perasaan makin dekat di hati.
Hmm... Itu mungkin anggapan pribadi, entah dengan yang lain. Teringat salah seorang sahabat muslimah, setiap bertemu di jalan, ketika tangan mulai menjulur akan berjabatan dan pipi mendekat untuk bercipika cipiki, ia selalu menolak. “Nanti saja di tempat sepi, diliatin orang!” Kira-kira seperti itu alasan yang kerap dilontarkan.
Deg! Meski awalnya sedikit kuciwa karena tangan terjulur tak terbalas, lama-lama terbiasa. Setidaknya memberi pelajaran bahwa tidak semua orang, suka berjabat tangan plus berpelukan cipika cipiki. Meskipun sesama muslimah.
***
Sedikit berbelok, ada yang tahu acara “Shibuya Free Hugs”? Sebuah acara “bebas berpelukan” yang dilangsungkan di sekitar Hachiko Koen Shibuya oleh para kaum muda Jepang. Mereka yang ingin dipeluk ataupun berpelukan, wajib membawa kertas putih bertuliskan “Free Hugs” sebagai tanda. Orang-orang yang sedang berlalu lalang, akan ‘berbaik hati’ mendatangi para kaum muda yang membawa spanduk tersebut, kemudian memeluknya plus cipika cipiki, meski antar pria wanita pun tak dilarang. Ada yang tertawa riang, menangis gembira, terharu, ada pula yang masih malu-malu karena mendapatkan pelukan. Para kaum muda yang mengaku kurang mendapatkan pelukan ‘kasih sayang’, setidaknya hari itu mengaku puas. Dapat merasakan kehangatan pelukan kasih sayang dari setiap orang dengan adanya acara “Free Hugs”.
***
Berbelok lagi ke arah lain, ada seorang sahabat muslimah Jepang, sebut saja I san, yang pernah bercerita tentang asal muasalnya masuk Islam. Tebakan saya, ia masuk Islam karena pernikahan. Dan tentunya 100% tebakan tersebut salah besar. Karena Ia bersyahadat jauh sebelum menikah dengan suami muslimnya.
Alasannya sederhana, ia tertarik Islam karena melihat dua muslim, saat bertemu berjabat tangan plus cipika cipiki berpelukan erat. Ia mengamati, pasti di manapun dan kapanpun, jika sesama muslim bertemu, acara jabat tangan plus cipika cipiki peluk erat tidak pernah ketinggalan. “Betapa indah persahabatan dalam Islam, berpelukan, berjabat tangan, cipika cipiki,” pikirnya saat itu. Tak disangka, dari ketertarikanya melihat kebiasaan jabat tangan ala cipika cipiki, membawanya pada hidayah Islam.
“Jika belum berislam, saya mungkin terbawa arus ikut-ikutan acara Shibuya Free Hugs,” ujar I san, saat itu sambil tertawa. Mendapatkan pelukan hangat plus cipika cipiki dari seseorang yang dikenal ataupun tak dikenal pasti akan terasa bahagia. Merasa keberadaan kita diakui. Indahnya persahabatan lebih terasa.
Mungkin, apa yang dirasakan I san hampir mirip dengan yang saya rasakan. Dengan berjabat tangan plus cipika cipiki, peluk erat saat bertemu sesama teman muslimah, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Meskipun kadang harus jaga sikap, karena mungkin ada beberapa orang – meski sesama muslimah – yang enggan bercipika cipiki plus pelukan erat saat berjabat tangan.
Hmm... Kadang mikir juga, kenapa sekedar cipika cipiki, peluk erat sesama muslimah aja, kok ada yang nggak mau? Anak muda Jepang saja sampai ngebela-belain ngadain acara Free Hugs buat ngungkapin ‘persahabatan’ dalam kebebasan berpelukan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.