Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Gairah di Bulan Ramadhan
13 Agustus 2010 pukul 16:25 WIB
"Pertaruhan" Seorang Ibu
4 Agustus 2010 pukul 16:10 WIB
Aku Lupa (Belum) Tersenyum
21 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Mengajarkan (Mengajak) Shalat
21 Mei 2010 pukul 16:00 WIB
Bacaan Shalat
20 April 2010 pukul 16:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 20 Agustus 2010 pukul 16:50 WIB

Sahur untuk "Yang Lewat"

Penulis : ruhendi

Alhamdulillah, di kantorku setiap Ramadhan, untuk sahur dan berbuka sudah dipesankan nasi bungkus oleh kantor. Ramadhan kali kedua ini kantor sudah menganggarkannya. Biar tambah berkah rejeki yang kita peroleh dari hasil usaha kita, kata pimpinan perusahaan. Walaupun perusahaan masih baru, tapi untuk hal satu ini manajemen perusahaan tidak mau ketinggalan beramal, apalagi untuk karyawannya.

Bukan nasi kotak atau catering yang dipesan, hanya nasi bungkus dengan harga paket hemat. Kami maklum dan tetap bersyukur, mungkin perusahaan baru mampu segitu. Nasi bungkus itu dipesan dari warung langgananku di kantor yang dulu waktu pertama kali singgah di kota ini. Dengan menu sahur dan buka ”alakadarnya”, nasi, tempe oreg, telor dadar sebagai lauknya dan alhamdulillah paket hemat itu cukup untuk mengenyangkan perutku dan teman-teman serta menghemat uang jajan untuk beli makan tiap harinya. ”Bulan Ramadhan ini pengeluaran jadi irit, karena tidak perlu keluar uang dari saku pribadi,” ujar temanku dengan wajah berseri-seri.

Setelah deadline kerja sekira jam 00.30, kami awak redaksi yang berjumlah sekira 14 plus wartawan dan seorang satpam, menunggu waktu sahur di kantor, karena tanggung kalau pulang ke mes dan takut kebablasan tidur sehingga tidak sahur, serta lumayan dapat sahur gratis. Nasi bungkus itu diantar pemilik warung ke kantor, sehingga kami tidak usah repot-repot keluar di malam hari yang dingin.

Tiap hari menu untuk sahur dan berbuka selalu berubah. Pernah menunya telor bulat yang direbus plus sayur kangkung di plastik kecil untuk tiap orangnya. Mensiasati menu, pemilik warung memutar otak mengolah telor, ceplok telor mata sapi, digoreng, dan pernah juga telor itu disemur. Kadang diselingi daging ayam, kikil sapi, dan sebagainya.

Ada selorohan lucu dari temanku ketika membuka nasi bungkus dan mengajak tebak-tebakan apa isi lauknya. ”Coba tebak sekarang menunya apa?” tanya temanku. Teman yang lainnya menimpali, ”Kayaknya ”cikal bakal ayam” (telor, red) karena waktu diraba lauknya ada yang bulat di nasi bungkus itu." Mendengar nama aneh itu, teman yang lainnya tertawa, terasa rasa kekeluargaan di antara kami yang sebagian besar jauh dari istri dan keluarganya demi pekerjaan.

Pernah sekali waktu, pas berbuka menunya dengan kikil, sahurnya daging ayam walaupun hanya satu potong yang kecil. ”Alhamdulillah sekarang menunya ”ayam asli”, moga besok tidak kembali kembali dengan menu ”cikal bakal ayam” atau kikil," ujar seorang teman yang paling muda umurnya. ”Apapun menu yang kita temui, kita harus bersyukur karena kalau kita nyari makan sendiri harus keluar uang, dan dinginnya hawa dini hari,” kata temanku yang sudah beranak dua mengingatkan.

***

Satu jam sebelum imsak, nasi untuk sahur sudah ada di dalam kantor yang diberikan pada satpam. Sahur hari ke-8 pas menunya dengan telor bulat dan tahu goreng. Walaupun ada rasa bosan dengan menu itu, tapi kami menikmatinya dengan lahap.

Setiap orang mengambil bagiannya dan mencari tempat yang nyaman untuk makan sambil menonton acara komedi di TV. Karena beberapa teman kerja sudah pulang ke rumahnya, terlihat masih ada sisa 4 nasi bungkus, kami cari akal biar nasi itu bisa habis. ”Nambah, biar nasi ini habis,” ujarku pada salah seorang teman supaya nasi ini tidak mubazir. ”Ah, sudah kenyang. Perut ini sudah tidak bisa menampungnya lagi,” jawab temanku.

Aku keluar dari kantor dan melihat ke jalan, barangkali ada pemulung sampah yang lewat depan kantor. Ada tukang sate yang jualan sampai imsak. "Ah masa ngasih nasi ini pada tukang sate, karena pasti dia sudah mempersiapkan makanan untuk sahurnya," gumamku.

Sambil melirik jam di hp, masih terlihat 25 menit lagi datangnya waktu imsak. Ada bapak tua yang membawa sepeda melintas, tapi aku tidak bisa menghentikan laju sepedanya untuk menawarkan sahur dengan nasi ini karena ia ngebut bawa sepedanya. Sepertinya ia buru-buru untuk belanja ke pasar.

Akhirnya ada tukang becak yang lewat, mungkin mau menjemput langganannya belanja ke Pasar. Ku segera menghentikannya. ”Pak, berhenti dulu,” ucapku dengan sopan. ”Ada apa, kang?” tanya tukang becak sedikit kaget. ”Ini ada nasi untuk sahur, lumayan. Sisanya bagikan aja pada yang lainnya,” ucapku sambil menyodorkan kresek berisi empat bungkus nasi. ”Ooh, terima kasih, kang. Terima kasih,” jawab tukang becak ini. ”Kebetulan, ini mau ke warteg untuk makan sahur di ujung jalan ini dan menjemput langganan yang mau belanja,” tambahnya.

Setelah menerima kresek itu, tukang becak ini berlalu meninggalkanku dengan senyum. Alhamdulillah hari ini aku beruntung terhindar dari mubadzir yang mengakibatkan dosa. Ternyata di luar kami, masih ada orang yang membutuhkan, walau hanya ”lebihan” dari makan sahur tapi bermanfaat bagi tukang becak ini.

Teringat firman Allah dalam surat Al-Israa ayat 26-27, "Berikanlah kepada karib kerabat haknya masing-masing dan kepada orang miskin dan orang musafir dan janganlah engkau mubadzir (pemboros) dengan semubadzir-mubadzirnya. Sesungguhnya orang-orang mubadzir itu adalah saudara syetan dan syetan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

Terima kasih, abang tukang becak, kau telah menyelamatkan kami dari dosa. Dan mungkin kau pun beruntung bisa memakan nasi itu walau dengan menu seadanya.

Alangkah indah dan nikmatnya berbagi di bulan yang penuh barakah ini.

Suka
Puspita menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1083 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels