|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
hendi_ruhe@yahoo.com |
|
roehendie@gmail.com |
|
hendi_ruhe@yahoo.com |





Senin, 21 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Penulis : ruhendi
Pernahkah mengalami rasa penat karena pekerjaan? Kepala terasa berat dan sulit berpikir lagi untuk meneruskan pekerjaan.
Siang itu, karena ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan, aku masuk kantor (biasanya sore hari), sudah mulai memegang mouse, dan duduk di depan komputer. Pekerjaan yang menuntut ide kreatif dan serius untuk desain iklan. Akhir pekan biasanya sibuk karena permintaan klien, desain itu harus segera dikirim via e-mail ke Jakarta.
Pekerjaan di depan komputer yang menurut sebagian orang lain kelihatannya enak, tetapi menurutku sangat menyebalkan. Kadang aku berpandangan orang lain yang bekerja di luar sana lebih enak bisa sekalian jalan-jalan. Sepertinya memang orang saling berprasangka bahwa kerja di depan komputer enak, begitu juga melihat orang lain dengan pekerjaan yang berbeda, kita melihat dia enak. Padahal belum tentu juga, tinggal bagaimana kita bersyukur dengan apa yang telah kita miliki.
Ada tiga desain yang harus segera beres. Desain yang tinggal finishing, karena diminta cepat selesai, aku bingung harus yang mana didulukan. Kubuka satu per satu file, kupilih yang lebih gampang menyelesaikannya. Karena diburu-buru, mendadak otak seperti beku (hang, istilah komputer), aku tetap berusaha meneruskan pekerjaan itu supaya segera selesai dan bisa santai, tapi lama kelamaan otak kanan dan kiriku tak kuat lagi untuk bekerja. Kepalaku panas, ah Masya Alllah.
Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam. Aku bertanya pada diri sendiri kenapa bisa seperti ini. Ide-ide yang muncul sekarang seolah pergi. Rupanya semua masalah sudah klimaks. Kulihat teman di sampingku yang sedang bercanda dengan teman di sebelahnya. Rupanya mereka lagi bersuka ria, ah kenapa aku tidak bisa ketawa untuk saat ini yang melulu memikirkan pekerjaan. Aku merasa rugi. Otakku yang terus menerus bekerja tanpa berusaha rileks dan berhenti sejenak.
Tiba-tiba hape yang kuletakkan di depan meja komputerku bergetar dan berdering. Ada SMS rupanya. Kuraih hape dan kulihat SMS dari istriku.
"Lagi sibuk apa? Mas, barusan ada monyet masuk ke rumah. Ia mau mengambil pisang yang dibeli mamah di dapur. Yayu ketika ke dapur dan pas mati lampu kaget melihat monyet itu dan hampir pingsan dan segera kembali ke ruang depan. Ia berbicara ga gi gu. Ditanya ada apa, tetap ga bisa ngomong dengan jelas hanya menunjukkan tangannya ke arah dapur. Setelah dilihat, ternyata ada seekor monyet yang sudah siap memakan pisang dan bersama mamah segera monyet itu bisa diusir ke luar dengan sapu lidi walaupun sedikit susah. He…”
Kubaca dengan seksama SMS yang panjangnya hampir 2 layar di hapeku. Kok bisa monyet masuk rumah, padahal jarak rumah kami dengan tempat wisata penangkaran monyet sekitar 2 kilometer. Mungkin karena kelaparan, monyet itu dengan meloncat genteng melewati rumah-rumah, akhirnya sampai juga di rumah kami. Terenyuh aku membaca SMS itu, bibirku tersenyum.
“Ah, ada-ada saja. He...” balasku via SMS lagi.
Akhirnya aku bisa tersenyum juga seperti teman di sampingku yang bercanda seolah tidak ada beban dengan pekerjaan mereka. Aku tidak mau terbebani terus menerus dengan pekerjaan dan ingin lebih enjoy bekerja (dinikmati).
***
Tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid yang tidak jauh dari kantor. Sudah datang waktu ashar rupanya. Aku ingin berjama'ah shalat Ashar hari ini, sambil mengistirahatkan otakku. Ada suasana yang khidmat di masjid, terlihat banyak jama'ah dari lingkungan masjid dan dua orang pedagang keliling baso dan es krim yang menyempatkan shalat ashar berjama'ah.
Salut juga untuk dua pedagang keliling itu yang ketika mendengar adzan segera menghentikan aktivitasnya mencari bekal untuk duniawi dan menyempatkan shalat berjama'ah. Ke luar dari masjid, kulihat ada semangat baru di wajah kedua pedagang itu untuk meneruskan aktivitasnya.
Alhamdulillah, melihat semangat pedagang itu, aku jadi ikut bersemangat. Setelah shalat berjama'ah tadi, otakku fresh dan siap untuk menerus pekerjaan.
Ternyata beristirahat sejenak, membebaskan pikiran dengan mengingat hal yang lucu, akan membuat otak lebih rileks.
Ah, aku hampir lupa belum senyum hari ini karena terlalu serius bekerja.
*) Yayu : Panggilan kakak perempuan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.