QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Seikhlasnya
12 Januari 2010 pukul 16:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 14 Februari 2010 pukul 16:55 WIB

Panggilan Bapak dan Handphone Hilang

Penulis : ruhendi

”Kapan ke rumah?” kata bapak di ujung telepon menanyakan kepulanganku. Walaupun mungkin sekadar basa-basi, tapi setidaknya menyiratkan perasaan rindu pengen ketemu setelah beberapa bulan tidak datang menemui keluarga di kota A. Bapak yang berumur sekitar 75 tahun kelihatan menikmati hari tua bertubuh gemuk tinggal bersama keluarga kakak dengan 3 cucunya.

Terakhir saya dan istri yang lagi hamil 2 bulan berkunjung ke rumah, sehari sebelum Idul Adha 1430 H lalu. Saya, istri, dan keluarga ikut shalat Id Adha berjama'ah di alun-alun desa. Berziarah ke makam ibu yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Selanjutnya, bercanda dan asyik ngobrol ngalor-ngidul bersama kakak, bapak, serta keponakan. Itu kali terakhir saya dan istri ke sana.

Setelah lama tak bertemu, ada rasa kangen yang timbul untuk bisa bertemu lagi dengan keluarga. Karena Sabtu dan Minggu libur kerja, aku agendakan untuk berkunjung. Rencananya Sabtu sore aku mau berkunjung, karena entah mengapa, Jum'at sore sehabis Ashar dan membaca Surat Yasin pada 4 ayat terakhir, tak kuasa menahan air mata, bacaan terhenti. Sedih dan merasa berdosa sudah lama tidak berkunjung.

Jum'at malam setelah beres deadline kerja jam 00.00, pulang ke rumah ibu mertua dengan bus malam dengan perjalanan sekira 4 jam. Tiba di rumah pas adzan Subuh. Hari itu, setelah Ashar, agenda bermain futsal dan badminton dengan teman-teman kerja yang dulu bareng di kota B. Rencana berangkat ke kota A selepas Isya untuk menikmati perjalanan malam pulang ke rumah, jadi teringat semasa kuliah.

Istri terkasih sudah mengizinkan untuk berkunjung ketemu keluarga dan sudah menyiapkan oleh-oleh untuk keluarga. Karena lagi hamil dan mabuk perjalanan jauh, istri tidak ikut. “Mas, kalo bisa jangan main futsal dulu, langsung berangkat aja tuk ketemu bapak,” ujar istriku. Tapi karena setiap Sabtu ada jadwal olahraga, saya tetap pergi main futsal dan badminton.

Namun Allah punya rencana lain. Setelah bermain futsal dan badminton, dalam perjalanan pulang ke rumah mertua dan mampir ke ATM mengambil uang, baru tersadar bahwa handphone tidak ada. Buka tas raket, mengeluarkan raket, dan kaos yang basah keringat, ternyata handphone memang tidak ada. Mungkin ketinggalan di tempat olahraga tadi, pikirku setelah bermain futsal dan diteruskan badminton.

Saat itu hujan deras, dengan ngebut mengendarai motor, balik kanan menuju ke tempat olahraga dengan perasaan was-was semoga handphone masih ada. Tanya pada tukang parkir, pelayan, dan cleaning service, barangkali mereka menemukan handphone milikku. "Tidak tahu," jawaban mereka, dan menyuruh mencari ke tempat aku duduk istirahat setelah futsal dan badminton. Setelah mencari di setiap sudut GOR, tapi ternyata handphone tidak ada, walaupun masih aktif ketika dicoba ditelpon tapi tidak ada yang menjawab. Mungkin terjatuh di jalan atau entah ada di mana.

Setengah jam mencari dan mengingat-ingat terakhir pake handphone saat baca SMS dari kakak menanyakan, “Pulang ke kota A nanti naik mobil atau bawa motor?” Belum sempat membalas SMS, handphone diletakkan di dekat tas raket di kursi tempat istrahat meneruskan kembali badminton set kedua yang lagi seru-serunya, seingatku. Dengan kecewa, kuputuskan pulang ke rumah, khawatir istri yang sudah lama menunggu. Ah, pulang dulu ke rumah, nanti malam bisa kembali lagi mencari di GOR ini karena masih penasaran, pikirku.

Sesampai di rumah, Istri yang sudah menanti membuka pintu dan memberikan handuk karena melihat tubuhku yang basah kehujanan tanpa jas hujan. “Dari mana, mas, kok pulang telat, biasanya adzan Isya sudah sampai di rumah,” tanya istri. Kuceritakan kronologisnya dan bilang handphone hilang entah jatuh atau ketinggalan di GOR, istri kaget. Memang kali ini setelah futsal, kepulanganku larut malam karena mencari handphone.

Untuk kali kedua, setelah shalat Isya dan makan malam bersama istri, kuputuskan kembali lagi ke GOR tadi sebelum tutup jam 23.30 untuk mencari handphone karena penasaran handphone masih aktif. Suasana di GOR yang sudah sepi dan hanya sekitar 4 orang terakhir bermain badminton, bolak-balik mencari handphone ke tempat duduk istirahat, toilet, mushala tempat aku shalat maghrib tadi, namun tetap nggak ketemu.

Tiba di rumah setelah pencarian kedua, aku berkata kepada istriku, “Maafkan, mas enggak mendengar ucapanmu melarang bermain futsal dan menyuruh segera berangkat ketemu bapak dan keluarga di Kota A. Mungkin kejadiannya enggak seperti ini, handphone hilang dan malah gak jadi berangkat karena terus mencari handphone sampai malam,” ujarku.

“Udah, enggak apa-apa, mas, masalah handphone tar bisa beli lagi. Ini pelajaran jika sudah ada niat melakukan sesuatu yang baik, apalagi menemui bapak, jangan ditunda-tunda,” kata istriku.

“Makasih, sayang, mas sedikit lega. Iya, masih mending handphone yang hilang, kalau harta/sesuatu yang lebih berharga lainnya hilang, bagaimana kita?” ucapku membalas pembicaraan.

Jadi teringat firman Allah dalam surat Al-Israa' ayat 23-24, “Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Bapak, maafkan anakmu.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Andree | Karyawan
Walaupun saya baru di KotaSantri.com, tapi saya sangat puas, karena penuh dengan ilmu agama, dan penggunaannya pun sederhana gak seperti yang lain, yang penuh dengan instruksi bahasa orang kafir, kasihan kan yang ingin ikut silaturrahmi tapi gak ngerti bahasanya seperti saya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1123 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels