HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Kerupuk dan Introspeksi Diri
9 September 2011 pukul 09:39 WIB
Dekat dengan Anak
28 Mei 2011 pukul 11:45 WIB
Aku Ingin Menikah
15 Maret 2011 pukul 08:45 WIB
Ucapan yang Ditunggu
17 Januari 2011 pukul 16:15 WIB
Beruntung Aku Sakit
9 November 2010 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 12 Januari 2010 pukul 16:30 WIB

Seikhlasnya

Penulis : ruhendi

Ketika semua orang merasa selalu kurang dengan materi (uang), ada seorang tukang permak pakaian keliling memasang tarif “seikhlasnya”. Padahal dia sudah berkeluarga, mempunyai seorang anak kecil 3 tahunan, dan tinggal di kamar kontrakan yang sempit. Tiap hari ia berkeliling masuk komplek mencari konsumen untuk dibantu memperkecil ukuran baju atau celana.

Waktu makan siang tiba (pukul 12.00), ia tiap hari pulang ke kontrakannya, memilih makan bersama anak dan istrinya. Juga untuk beristirahat sejenak. Setelah itu, dia mengayuh sepeda jahitnya (sepeda yang ada mesin jahitnya) mencari konsumen lagi.

Kemarin siang, saya ke tempat kontrakannya bermaksud mengecilkan kaos yang kegedean karena terlalu lebar di badan. Sepeda jahitnya terlihat di parkir di depan kontrakannya.
Mulailah tukang permak mengerjakan tugasnya setelah diberi contoh ukuran kaos. Mengukur, memotong, dan menjahit kaos sesuai dengan pesanan dan rapi.

Kurang lebih 10 menit sudah beres kaos itu dikecilin, saya tanya ongkosnya (upah) berapa. Ia menjawab, seikhlasnya saja terserah. Jawaban itu bikin bingung, kira-kira sepantasnya berapa? Kurang lebih 8 kali ditanya berapa ongkosnya, jawabannya tetap sama, "Terserah mas saja."

Ia bilang malu bila mematok harga pada tetangga. Akhirnya diberi Rp. 10 ribu. Saya pikir layak untuk upahnya dengan perbandingan bila memotong celana jeans yang kepanjangan hanya Rp. 7 ribu.

Tampak bingung ia menerima uang tersebut dan bilang, uang ini harus ditukar dulu untuk kembaliannya. Ia malah minta setengah saja dari nominal uang itu. Wajahnya tampak begitu senang.

Dalam hati kecil saya, apakah tukang permak pakaian merasa cukup dengan upah seikhlasnya? Hidup di jaman sekarang, disaat harga barang kebutuhan mahal, perlu uang banyak untuk bisa belanja.

Tapi, katanya alasan tidak mematok harga karena ia merasa tidak enak sama tetangga. Padahal jarak rumahnya dengan tempat tinggal saya cukup jauh dan kami tidak terlalu akrab.

Inilah pelajaran perlunya merasa cukup dengan apa yang kita miliki dan rasa kekeluargaan yang tinggi sesama tetangga. Pernahkah kita merasa cukup?

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Vitra | Exim Staff
Sangat hebatzzz, KSC!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1018 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels