|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
hendi_ruhe@yahoo.com |
|
roehendie@gmail.com |
|
hendi_ruhe@yahoo.com |





Senin, 17 Januari 2011 pukul 16:15 WIB
Penulis : ruhendi
Pagi hari yang dingin, setelah Shalat Subuh kulirik HP yang tergeletak di samping di meja dekat tempat tidurku. Terlihat di layar HP yang terus menyala karena ada sebuah SMS yang masuk. Rupanya dari istriku, di awal SMS itu tertera pukul 2.30. Hmm, ku berpikir dan mengernyitkan dahi, kenapa ia mengirimnya pada jam-jam saat aku tidur terlelap.
Ah, mungkin setelah shalat malam atau setelah mengganti popok, ia ingat diriku yang berada jauh di kota yang berbeda. Sehingga ia mengirim SMS, dan saat aku terbangun, SMS itu bisa aku baca. Dan rasa kagetku bertambah setelah baca SMS itu, "Kado kemarin yang Mamah dapat adalah 'sabar'. Sabar menemani Dede dan sabar menunggu ucapan dari Mas."
Memori otakku berputar mengingat kejadian beberapa hari yang lalu sambil masih memegang HP, aku mematung. Biasanya aku yang pertama mengirim SMS saat pagi hari datang. Kutanya kabar bidadari kecilku yang sedikit sakit dan istriku bangunnya jam berapa. Tapi hari itu, Istriku mengirim SMS lebih dulu.
Sengaja tidak langsung ku meneleponnya, aku hanya membalas pesan itu. "Kok, kado ucapan? Ada gitu? He... Dede (anakku) lagi apa? Sekarang panasnya dah turun? Mamah lagi sarapan?" Selalu kuselipkan canda tiap aku mengirimnya pesan.
Beberapa menit kemudian baru istriku membalasnya, "Helvy lagi ganti baju, panasnya masih. Belum sarapan." Membaca pesan itu, aku sedikit aneh. Kok, jawabannya begitu. Jutek banget, biasanya ia balik bertanya, "Ayah bangun jam berapa?" Tidak menyebut nama anakku dengan nama Helvy, tapi diawali dengan kata de.
"Ada apa, mah? Kok jawabannya jutek banget." tanyaku.
"Tidak ada apa-apa, biasa aja. Hanya kadang ayah lupa dengan hal kecil, tapi lupakan saja."
Kubalas lagi, "Sok cerita yang sebenarnya ada apa, apakah capek ngurus dede?"
Sambil menunggu balasan dari istriku, kubuka kembali semua pesan pendek yang dikirim istriku kemarin. Mungkin ada "benang merahnya" dengan pesan yang dikirimnya sekarang. Tapi aku belum menemukannya.
Cukup lama menunggu, akhirnya sebuah pesan masuk. "Ngurus dede tidak ada capeknya, hanya lagi kesal saja sama ayah. Ayah lebih ingat hari ulang tahun ponakannya dibanding mamah."
Deg. Sontak aku kaget. Mengernyitkan dahi dan baru tersadar. Ternyata hari kemarin adalah hari ulangtahunnya. Sebenarnya malam kemarin aku pergi ke ATM untuk mengambil uang dengan nomor pin tanggal kelahirannya. Entahlah kenapa aku bisa lupa, padahal minggu-minggu ini aku tidak terlalu sibuk juga dengan pekerjan. Aku hanya menjanjikan jalan-jalan dan makan di tempat favorit tiap aku pulang akhir pekan.
Sudah beberapa hari ia pasti menunggu ucapan selamat ulang tahun dari bibirku dan ia pun tidak mau memberi tahu bahwa hari itu hari spesial buat dirinya. Minggu yang lalu ketika mendesain kalender untuk kantor, aku hanya ingat dengan tanggal perusahaan ini mulai berdiri. Aku pun tidak memasang alarm di HP untuk tanggal kelahirannya, hanya tanggal kelahiran anakku saja. Aarghh, sepertinya memang harus begitu, aku lupa.
Rasa bersalah mendorongku segera menelponnya. "Kriinggg... Kringgg..." Dua kali dihubungi Istiku tidak mengangkatnya. Mungkin lagi sibuk beres-beres kamar, pikirku.
Kucoba lagi, "Kriinggg...." Kali ini istriku mengangkat teleponnya. "Wassalamu'alaikum," ia menjawab ketika kuucapkan Assalamu'alaikum." Terdengar nada sendu, rupanya ia tidak kuat menahan kekecewaannya dan akhirnya menangis.
"Maafin ayah, ya sayang, ayah benar-benar lupa kemarin adalah hari spesial buat mamah. Tahun kemarin, ayah ngasih surprise kan?" aku coba menghiburnya.
"Mamah dari kemarin menunggu ucapan selamat ultah dari ayah, tapi ayah tidak juga memberi ucapan lewat SMS atau telepon. Jadinya mama nangis."
"Lagi di mana? Dede digendong? Eh, jangan nangis ya, malu ma dede."
"Lagi di kamar atas. Iya, dede digendong, ngeliatin terus wajah mamah yang sembab. Mamah sedih dan kecewa, ayah sampai lupa ultah mamah. Ayah juga mungkin lupa tanggal lahir dede?"
"Iya, maafin ayah ya. Selamat ulang tahun untuk permaisuriku, semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kesabaran mengurus dede. Wish all the best for you. Besok-besok ayah Insya Allah gak akan lupa lagi. Nggak dong, Ayah ga lupa tanggal lahir dede. Sebagai penebusnya, tar hari Sabtu kita jalan-jalan dan makan di tempat yang mamah inginkan ya. He..."
***
Dalam kehidupan keluarga, seorang suami hendaknya tidak lupa dengan hal kecil. Karena bisa jadi hal kecil itu akan sangat berharga bagi seorang istri. Begitu juga untuk hari spesial istri kita. Biasanya hari spesial itu hari adalah hari kelahirannya, tanggal pernikahan, tanggal kelahiran anak, dan sebagainya.
Walau hanya sekedar sebuah ucapan selamat ulang tahun, tetapi ucapan itu pasti akan membuatnya merasa senang dan dihargai. Tentu bukan hanya sekadar ucapan, karena biasanya ucapan itu disertai do'a. Do'a semoga bisa lebih dewasa, lebih sabar, Allah terus membimbingnya dan akan lebih senang bila diberi kado spesial atau surprise.
Suami tidak boleh ego ketika diingatkan, meminta maaf bila ada kesalahan pada istrinya. Tidak malu ketika diminta membantu pekerjaan dapurnya dan sebagainya. Pasti semua usaha seorang suami untuk keluarganya, istri, dan anaknya. Banting tulang pagi, siang, malam banting tulang demi menghidupi keluarga tetapi tidak lupa memberikan perhatian dengan meluangkan waktu untuk anak dan istri kita. Mengajak anak kita bermain, menggendongnya. Meminta pendapat tentang sesuatu masalah yang dihadapi dan selalu terbuka dengan keadaan yang terjadi pada diri kita.
"Ya Allah, semoga engkau senantiasa memberikan petunjuk dan keberkahan kepada keluarga kami. Engkau Mahakaya, hanya kepada engkau kami meminta. Semoga selalu hadir keceriaan dan kebahagiaan di surga (rumah) kami. Jadikan aku, istri, dan anakku menjadi hamba yang selalu bersyukur. Jadikan kehidupan keluarga kami ke depan lebih baik lagi." Amin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.