|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
hendi_ruhe@yahoo.com |
|
roehendie@gmail.com |
|
hendi_ruhe@yahoo.com |





Jum'at, 8 Oktober 2010 pukul 15:55 WIB
Penulis : ruhendi
Dua hari yang lalu, setelah shalat maghrib dan mulai dengan rutinitas pekerjaan mengedit gambar dan berita, sebuah pesan masuk ke hape. Ternyata dari kakakku yang tinggal serumah bersama bapak, mengabarkan bahwa bapak baru saja dari dokter dan lusa akan dibawa ke rumah sakit (dokter spesialis), untuk memeriksa kondisi saluran pencernaannya.
Mendengar kabar bapak sakit, muncul perasaan sedih. Hari pertama setelah lebaran, kami anak-anaknya semua sudah berkeluarga dan berkumpul. Aku, satu kakak laki-laki, dan satu kakak perempuanku beserta keluarganya masing-masing dan anak-anaknya bersilaturrahim ke rumah bapak. Beliau yang berusia 75 tahun berbadan gemuk, sehat, segar bugar, dan ngobrol seperti biasanya, tidak menunjukkan gejala sakit.
Setiap lebaran merupakan momen penting bagi keluarga besar kami. Saat kami semua berkumpul, bapak bercerita tentang masa-masa kami kecil dulu. Menyebutkan siapa di antara kami (anak-anaknya) yang paling bandel, paling dimanja, penurut, paling susah diatur, paling pintar, dan sebagainya. Aku termasuk yang pendiam dan rajin ikut ke masjid saat shalat maghrib.
Semua itu diceritakan di hadapan semua cucu-cucunya. Mendengar cerita bapak, semua cucu-cucunya tertawa setelah tahu bagaimana ayah dan ibunya di waktu kecil dulu. Bapak menurut seorang kakak, orang yang tegas dan terkadang galak. Ah, benar-benar mengesankan dan hangatnya suasana keluarga kami malam itu.
***
Ketika jauh, telepon merupakan salah satu alat komunikasi bagiku dengan bapak. Sengaja kubelikan hape khusus buat bapak walaupun bisa saja menelepon melalui hape kakak dulu. Hape yang tidak terlalu canggih tapi itu cukup untuk berkomunikasi, sehingga ketika aku telepon, bisa langsung menyapa bapak. Hape itu dipegang bapak untuk melihat jam saat waktu shalat tiba dan alarm bangun tidur untuk berjama'ah shalat Subuh.
Di ujung telepon aku menanyakan kabar, bapak mengeluh. Sekarang lagi lemas, cepat capek, dan saat BAB keluar darah. "Katanya kemarin sudah dari dokter? Bagaimana ada perubahan?" tanyaku. "Iya, kemarin sore dari dokter diantar kakakmu Heri. Sekarang masih lemas dan terus rajin minum obat biar cepat sembuh," jawab Bapak. "Nanti 3 hari setelah obat ini habis dan tidak ada perubahan, akan ke dokter spesialis," lanjut Bapak.
"Makan yang teratur ya, pak, pergi jalan-jalan biar tidak jenuh bila di rumah terus. Insya Allah cepat sembuh kok," ujarku menyemangati. "Iya, do'ain aja biar segera sembuh," jawab Bapak.
Seperti kepada istri yang dulu lagi hamil, pernah kutawari makanan dan buah khas dari kota ini, mungkin lagi pengen makan itu. "Bapak mau ubi atau nanas dari sini? Tar dibawain," tawaranku kepada Bapak. "Enggak, bapak cuma pengen sembuh. Makan itu, nanti setelah sehat," balas Bapak.
***
Ya Allah yang Maha Perkasa, sembuhkanlah bapak dari penyakitnya, panjangkanlah umurnya, dan ampunilah dosa-dosa bapak. Amin.
Bapak, keceriaanmu kebahagiaan kami.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.