Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Aku Lupa (Belum) Tersenyum
21 Juni 2010 pukul 16:00 WIB
Mengajarkan (Mengajak) Shalat
21 Mei 2010 pukul 16:00 WIB
Bacaan Shalat
20 April 2010 pukul 16:15 WIB
Perasaan Istri
8 April 2010 pukul 16:30 WIB
Bapak yang Terbuang
5 Maret 2010 pukul 15:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 4 Agustus 2010 pukul 16:10 WIB

"Pertaruhan" Seorang Ibu

Penulis : ruhendi

Malam itu tepat malam 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban), setelah menyelesaikan deadline pekerjaan sekira jam 00.20, aku segera pulang dari kantor dan istirahat. Diniatkan malam ini bisa shalat Isya dan shalat hajat di seperempat malam, dan dengan keyakinan malam ini segala doa diijabah (dikabulkan) oleh yang Mahakuasa. Berharap ada berkah di bulan Sya’ban ini untuk keluargaku setelah berpuasa sunnah tadi siang hari Senin.

Kupasang alarm HP jam 03.00 biar bisa terbangun tepat waktu, tidur 2,5 jam kupikir cukup untuk memejamkan mata setelah lelah bekerja di depan monitor dari sore hari. Jam 3 tepat alarm berbunyi dengan suara adzan membangunkanku dari tidur. Segera kuambil air wudhu, setelah melaksanakan shalat Isya dan dilanjutkan shalat hajat, do'aku memohon kepada Allah semoga istri yang kini lagi hamil dan memasuki bulan kesembilan bisa melahirkan dengan normal, lancar, dan selamat ibu juga bayinya.

Pagi jam 5.30, HP berdering, ternyata istri menelepon dan menyuruh segera pulang karena perut sudah mulai terasa mules-mules. “Mas, pagi ini segera pulang ya, perut sudah terasa mual dan mules malah dari malam,” ujar istriku. “Iya sayang, mas segera pulang,” balasku dengan perasaan dag dig dug tidak karuan. "Alhamdulillah, sudah ada tanda-tanda melahirkan hari ini," gumamku.

Sudah dari 2 minggu yang lalu menunggu kabar ini, kok kenapa sudah memasuki bulan kesembilan belum ada tanda-tanda dan membuat perasaanku selalu cemas dan mengkhawatirkan kondisi istriku yang berada di kota yang berbeda dari tempatku bekerja.

Hujan yang cukup lebat pagi itu mengurungkan niatku pulang membawa motor dengan harapan bisa datang ke kota tujuan lebih cepat. Akhirnya kuputuskan naik bis saja walaupun agak lama sampainya. Sepanjang perjalanan, do'aku tak putus, "Ya Allah, semoga aku bisa mendampingi istri saat melahirkan dan istriku dapat menjalani persalinan dengan lancar."

Menuju kota tempat istriku tinggal, harus dua kali berganti naik bis. Turun dari bis yang pertama, aku mampir ke mushala terdekat dan kusempatkan shalat dhuha, semoga diberi ketenangan dalam masa-masa seperti ini. Tidak lama menunggu, bus kedua datang dan kuteruskan perjalanan dengan tidak sabar melihat istriku.

Tiba di rumah jam 10.30, aku segera menemui istri yang baru pulang dari bidan diantar ibu mertua. “Gimana, mah, kata bidan gimana?” tanyaku pada ibu mertua. “Tadi udah bukaan empat katanya dan disuruh pulang dulu karena masih lama, perkiraan jam 4-an insya Allah dah “keluar” bayinya. Jam 2-an ke sini lagi ya,” jawab ibu mertua menirukan ucapan bidan.

Jam 2 kurang, aku bersama istri yang sudah lemas pergi ke bidan lagi dengan memakai becak. Siang itu hujan gerimis, melihat kondisinya ada perasaan kasihan, sedih, haru, dan kucoba menghiburnya dengan obrolan-obrolan lucu. Ya Allah, semoga di hari yang dingin ini akan ada “kehangatan” di keluarga kami dengan hadirnya sang malaikat kecil.

Di bidan, istriku segera diperiksa perut, denyut jantung, dan keluhan ada mual-mual tidak. “Ini masih bukaan empat, insya Allah beberapa jam lagi bisa segera melahirkan. Sekarang bisa jalan-jalan di sini saja, sambil menunggu pembukaan selanjutnya,” kata bidan. “Oh iya, bu,” ujarku. “Kalau sudah bukaan empat biasanya untuk pembukaan selanjutnya sampai sembilan tidak akan lama, bapak banyak berdo'a saja ya,” sambung bidan lagi.

Bolak-balik istriku berjalan supaya persalinannya lancar dan sesekali jongkok sambil menahan rasa sakit yang sangat. Dianjurkan juga makan dulu dan minum yang cukup supaya ada tenaga ketika nanti mengejan. “Sayang, kau pasti bisa mengejan dan bisa melahirkan dengan normal,” bisikku di telinga istri dan memotivasi istri.

Beberapa menit sebelum tiba waktu shalat Ashar, setelah diperiksa Bidan, ternyata sudah pembukaan sembilan. Alhamdulillah, menunggu pembukaan sembilan tidak lama dan timbul keyakinan istriku bisa melahirkan hari ini, tidak seperti cerita teman-teman kerja ketika akan melahirkan banyak sekali hambatan sehingga tidak bisa melahirkan dalam waktu sehari, bahkan ada yang butuh 3 - 4 hari dan sampai harus ditangani dokter dulu di rumah sakit.

Ya Allah, ini kemudahan yang Kau berikan, alhamdulillah. Ketika bertemu orang-orang yang sudah akrab dan menanyakan istriku lagi hamil berapa bulan, kujawab sudah memasuki sembilan bulan dan aku meminta dido'akan untuk kelancaran persalinan. Kepada saudara serta keluarga selalu minta dido'akan hal yang sama.

Di ruangan khusus istri dibawa, bidan dibantu asistennya menyarankan pada istriku supaya mengikuti aba-aba darinya waktu mengejan nanti. Bidan juga menyuruh aku mendampinginya, melihat, dan memberi semangat untuk istriku. Di pembukaan sembilan, istri tidak kuat mengejan lebih keras lagi dan sepertinya sudah kehabisan tenaga. Berkali-kali mengejan dan disuruh menyambung supaya sang bayi segera keluar, tapi tidak bisa.

Atas saran bidan, aku naik ke ranjang bersandar dan berada di belakang istriku dengan posisi kedua kaki lurus ke depan. Untuk membantu istriku melahirkan dengan mendorongkan tangan ke perut istri pada saat mengejan. Saat aba-aba mengejan dari bidan, kudorongkan tangan dengan sekuat tenaga, istri juga mengejan dengan tenaga penuh. Ya Allah, semoga ini dimudahkan, ingatanku bila ada dosaku kepada siapapun, semoga Engkau mengampuninya supaya persalinan ini lancar, tapi tetap tidak bisa. Terasa keringat panas dan dingin menyeriak keluar.

Dua tiga kali dicoba gagal, dicoba lagi gagal lagi. Akhirnya bidan angkat tangan dan menyarankan harus segera ke rumah sakit secepatnya mumpung kondisi istri dan bayinya masih kuat.

Setelah berpikir dan meminta pendapat dari ibu mertua yang menunggu di luar, aku mengiyakan saran dokter. Masalah biaya bisa dicari, yang penting ibu dan bayinya selamat, pendapat ibu mertuaku. Ya Allah, segala usaha dan do'a telah kami tempuh, akhirnya hanya Engkau yang menentukan. Kami pasrah dan siap menerima apa yang terbaik yang telah Engkau gariskan untuk kami. Ternyata berat saat ibu melahirkan, pertaruhan hidup dan mati ibu demi melahirkan anaknya.

Ambulan tiba. Melihat wajah istri yang sudah pucat, aku sedih. Awalnya kami tidak mau melahirkan di rumah sakit, ada ketakutan istriku mendengar kata operasi selain juga masalah biaya, tapi kalau memang sudah tidak bisa diusahakan di bidan, mau gimana lagi, obrolan kami suatu waktu.

Adzan Maghrib, tiba di rumah sakit. Istri segera ditangani tim dokter yang kebetulan sudah dipersiapkan. Bidan mendampingi dengan memberi tahu keadaan terakhir istriku. Tim dokter mengambil keputusan memvakum (sedot) kepala bayi dari rahim istri.

Alhamdulillah vakum tidak lama dan bayi lahir dengan selamat dan sehat. Mendengar kabar itu dari bidan, berkali-kali aku mengucapkan alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, istriku sudah melahirkan dan selamat dua-dua. Segera kukabarkan berita baik ini kepada semua keluarga dan teman-teman terdekatku. Akhirnya perjuangan istriku ”menang” dan bayi perempuan yang lahir ini jadi permata keluarga kami. Terima kasih, ya Allah.

***

“Sekarang kerasa kan kalau melahirkan seperti apa,” ujar bibiku ketika menengok istri dan sang bayi yang sudah kembali ke rumah. Istriku hanya senyum-senyum. “Itu baru disebut “sempurna” jadi perempuan, bagaimana pertaruhan nyawa untuk anaknya,” ujar bibiku lagi.

“Iya, bi,” jawab istriku dengan wajah ceria.

Melihat bagaimana kerasnya usaha sang ibu saat melahirkan, tentu kita harus memberi apresiasi kepada istri dan seorang ibu kita. Siapa pun dan apa pun posisi (jabatan) yang kita punyai sekarang, tidak terlepas atas usaha dan doa ibu serta bapak kita. Sejak mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita sampai saat ini dan kita harus membalas kebaikannya.

Terima kasih, ya Allah. Terima kasih ibu dan istriku.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1027 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels