|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
hendi_ruhe@yahoo.com |
|
roehendie@gmail.com |
|
hendi_ruhe@yahoo.com |





Jum'at, 21 Mei 2010 pukul 16:00 WIB
Penulis : ruhendi
“De, udah shalat belum? Suka ngaji ga?” tanyaku pada keponakan laki-laki yang berumur 3 tahun. “Belum shalat, kalo ngaji sekarang mah engga,” jawabnya polos dengan sedikit cadel.
Hal itu sering kutanyakan pada keponakanku ketika aku datang ke rumah untuk mengobati rasa kangen pada bapak. Atau di ujung telepon ngobrol dengan keponakan kesayanganku (terdekatku).
Jadi teringat saat shalat Id Fitri setahun yang lalu, keponakanku itu ikut bersama ke mesjid dengan jarak lebih dari satu kilometer. Ia ikut berjalan dan sesekali aku gendong giliran dengan bapaknya. Melihat orang lain yang juga bersama anaknya yang sudah berpakaian (koko) baru, menambah semangatnya.
Ketika shalat Id dimulai, ia mengikuti setiap gerakan shalat, dari mulai takbiratul ihram hingga salam, walau kadang terlihat matanya jelalatan. Alhamdulillah tidak banyak tingkah dan bermain-main ketika kami shalat, sehingga tidak mengganggu shalat kami.
Di rumah, pas pagi aku datang, keponakanku sangat senang sekali. Ia awalnya pura-pura enggak kenal, terus merangkulku. Aku ajak bersalaman dan ia mencium tanganku serta kugendong menanyakan kabar. Cium tangan ketika bertemu sudah diajarkan kedua orangtuanya sejak kecil.
Siangnya aku ajak pergi ke makam untuk menyapu makam ibu, ia ikut dengan senang. Adzan dzuhur tiba, ketika mau berangkat shalat berjama'ah di mesjid yang berjarak 10 meter dari rumah, ia merengek pada ibunya untuk bisa ikut dan minta memakai sarung dan peci sepertiku.
“Boleh ikut, tapi jangan nakal ya ketika shalat,” ujar ibunya. Keponakanku menggangguk tanda ia mau menyetujui perkataan ibunya.
Belajar mengaji dan shalat dari kecil harus diajarkan orangtua kepada anaknya. Mengenalkan shalat dengan memberi contoh takbiratul ihram, ruku, sujud seperti apa harus ia ketahui walaupun dengan bertahap.
Saya terkadang sedikit menyesalkan ketika tahu dan melihat keponakan yang lain yang berumur 4 – 5 tahun belum diajarkan shalat dan mengaji (baca Al-Qur'an). Padahal orangtuanya harus sudah mengajarkan itu atau menyuruh anaknya ke tempat pengajian sehingga anaknya akan terbiasa dengan jadwal ia mengaji.
Setelah shalat Maghrib, biasanya di kampungku dulu adalah waktu mengaji. Pergi ke tempat pengajian yang digelar sampai menjelang adzan shalat Isya dengan membawa Al-Qur'an. Diajarkan mengeja huruf-huruf Hijaiyyah serta belajar setiap gerakan shalat.
***
Mendengar berita dari kawan saya bahwa di lingkungan tempat ia bekerja, teman-temannya sekarang banyak yang melaksanakan shalat. Saat adzan Maghrib, teman-temannya yang kerja shift sore (jam dua siang sampai jam 10 malam) segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib di mushala.
“Mas, aku suka diingetin cewekku melalui SMS untuk segera shalat. Atau tiap waktu shalat tiba, ia selalu SMS seperti itu,” ujar kawanku bercerita tentang temannya.
“Bagus itu, berarti cewekmu baik, perhatian, dan suka ngingetin itu,” jawab temanku.
Kawan saya juga bilang, ketika melihat orang yang sudah melaksanakan shalat, wajahnya cerah karena telah dibasuh air wudhu dan pembawaannya kalem. Setelah dari siang tadi bekerja dengan serius, (harus) menyempatkan shalat itu merupakan kewajiban setiap orang yang beragama Islam. Barangkali cukup 5 atau 10 menit untuk melaksanakan setiap shalat itu.
“Terkadang saya heran mengapa teman-teman kerja di sini enggan dan malas untuk melaksanakan shalat, padahal mereka mendengar adzan dan tahu bahwa “panggilan Allah” itu telah datang, tapi tetap saja mereka acuh tak acuh. Mereka yang semua laki-laki, ada yang masih sendiri (single) juga ada yang sudah menikah, tidak mengindahkan adzan dan tidak segera melaksanakan shalat,” ujar kawanku panjang lebar.
“Bagi yang belum dan sudah menikah (jadi kepala keluarga), bagaimana ia bisa jadi imam bagi keluarganya, apabila shalat banyak yang ia tinggalkan. Bagaimana ia bisa menjadi teladan bagi anak dan istrinya,” pertanyaan kawanku yang aku simak dengan serius.
“Ada juga yang sudah terbiasa shalat sebelumnya, kemudian jarang melihat ia shalat, malah dibecandain teman-temannya, tapi alhamdulillah ia tetap terbiasa melaksanakan shalat. Mereka dekat dengan Allah (rajin shalat) ketika ditimpa suatu masalah atau ada suatu permintaan kepada RabbNya. Setelah masalah itu beres, ia lupa kepada Allah dan shalatnya bolong-bolong lagi,” tambahnya.
“Memang banyak kita jumpai hal seperti itu, tidak tahu harus dengan cara apa untuk saling mengingatkan shalat. Mungkin hanya menunggu kesadaran pribadi masing-masing saja untuk bisa melaksanakan shalat atau menunggu ia tua nanti, tapi semoga saja tidak,” jawabku sambil terus berpikir.
***
Sabda Rasulullah SAW, "Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim).
Shalat pembeda orang Islam dengan orang kafir. Pembeda antara orang muslim dengan kafir adalah shalat. Barangsiapa tidak salat berarti dia kafir: “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi No. 2621, Ibnu Majah No. 1079).
Dalam sebuah dialog di sebuah situs internet, Yusuf Islam (Cat Stevens -penyanyi terkenal-, yang sebelumnya non muslim) berkata, satu-satunya yang membedakan seorang muslim dan kafir adalah shalat. Sejak masuk Islam, ia telah menyadari pentingnya shalat dan sekarang menjadi tokoh pejuang perkembangan Islam di Inggris.
Ini menjadi renungan buat kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.