|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Selasa, 1 Desember 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Beberapa bulan yang lalu, salah seorang teman menulis status di Yahoo Messenger, "Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, tapi ternyata lebih parah dari kita." Begitulah kira-kira inti kalimat yang ia tulis. Setelah ditanya apa maksud dari kalimat tersebut, ia pun menjawab bahwa saat itu ia sedang dilanda kegelisahan mengenai status pekerjaannya.
Setelah sekian lama bekerja di sebuah perusahaan industri dengan statusnya yang masih tenaga kontrak, ia merasa gelisah dengan statusnya tersebut dan merasa tidak aman jika suatu saat terjadi pengurangan pegawai. Apalagi, ia sudah menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar sarjana, maka sudah saatnya untuk memikirkan kejelasan statusnya.
Berhubung di perusahaannya tempat bekerja tidak ada kejelasan kapan ia akan diangkat sebagai pegawai tetap, maka ia berusaha mencari kerja di tempat lain. Surat lamaran pekerjaan ia kirim ke beberapa perusahaan dan beberapa kali pula ia mengikuti tes dan wawancara. Bahkan, ia pernah diterima di suatu perusahaan dan sempat bekerja selama beberapa hari.
Ternyata, dari hasil tes, wawancara, dan 'uji coba' kerja di perusahaan lain, ia merasa bahwa di perusahaan tempat kerjanya saat itu (dan juga saat ini) masih lebih baik dibandingkan dengan perusahaan lain. Akhirnya ia memutuskan, untuk sementara waktu, ia akan tetap bekerja di tempat kerjanya saat itu dengan tetap mencari informasi pekerjaan yang lebih baik.
Dalam diskusi dengan saya, ia masih bersikukuh akan pentingnya sebuah status pegawai tetap dan menceritakan berbagai hal seputar permasalahan yang ia risaukan. Lalu, saya pun bercerita mengenai status pekerjaan saya yang masih kontrak. Saya pun mengalami hal yang sama dengannya, tidak ada kejelasan status kapan akan diangkat sebagai pegawai tetap.
Namun demikian, saya bersyukur masih bisa bekerja. Jika dibandingkan dengan orang lain, banyak di antara teman saya yang belum bekerja, ada pula yang sudah bekerja tapi penghasilannya masih jauh di bawah saya. Saya pun bercerita mengenai masa-masa pahit saya ketika belum mendapatkan pekerjaan seperti saat ini.
Selain itu, banyak pula orang-orang yang berjuang untuk mencari nafkah dengan membanting tulang dari pagi buta hingga menjelang malam. Ada yang menjadi pedagang asongan, penjual bunga keliling, penyemir sepatu, dan lain sebagainya, yang kalau diperhitungkan, penghasilan mereka masih jauh di bawah saya dan juga teman saya itu.
Beberapa bulan kemudian, ia bercerita kalau dirinya sudah diangkat sebagai pegawai tetap di perusahaan yang sama. Ia membayangkan, seandainya tempo hari ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, maka kemungkinan kecil dirinya akan diangkat sebagai pegawai tetap, karena di perusahaan baru harus melalui masa-masa training terlebih dahulu.
Ia menyadari kalau dirinya terlalu terobsesi dengan status pekerjaan sebagai pegawai tetap. Apalah arti dari sebuah status, jika ia tidak bisa menikmati pekerjaannya. Di perusahaan tempatnya bekerja, ia begitu menikmati pekerjaannya. Sedangkan di perusahaan lain, ia belum tentu dapat menikmati pekerjaannya.
Ia pun membenarkan apa yang tempo hari kami diskusikan, bahwa hidup itu harus disyukuri dan dinikmati. Syukuri apa yang ada, lalu nikmatilah hidup bagai air yang mengalir dan tentunya terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Dan, jangan lupa untuk selalu melihat ke bawah, lihatlah kondisi mereka yang di bawah kita. Dengan demikian, maka kita akan bersyukur dengan apa yang kita miliki.
Itulah yang ia terapkan ketika rasa gelisah dan risau menghantuinya saat status pekerjaannya masih sebagai tenaga kontrak. Berbekal keyakinan dan kesabaran, ia bersyukur masih bisa bekerja dibandingkan dengan orang lain yang belum beruntung dan ia pun menikmati pekerjaannya saat itu. Ketika saatnya tiba, apa yang ia dambakan untuk menjadi pegawai tetap pun dapat terwujud.
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
(D' Masiv – Jangan Menyerah)
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.