|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
ferryhadary |





Ahad, 25 Oktober 2009 pukul 15:35 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Setiap ada musibah ataupun bencana di tanah air kita, maka lagu apakah yang kembali populer? Benar, jika jawabannya adalah lagu dari Kang Ebiet. Bayangkan, lagu Untuk Kita Renungkan itu ditulis tahun 70-an dan sampai sekarang masih sering terdengar.
Anugerah dan bencana / Adalah kehendakNya / Kita mesti tabah menjalani / Hanya cambuk kecil agar kita sadar / Adalah Dia di atas segalanya / Adalah Dia di atas segalanya
Hmm...
Lirik yang membuat kita -mestinya- harus banyak merenung.
Tak heran, bukankah manusia memang tempatnya lupa? Apalagi setelah diberikan kenikmatan atau hanya secuil kesenangan. Karena itu, memang dibutuhkan sebuah 'cambuk kecil' agar kita kembali sadar. Namun, sebelum kulit berdarah dan mengelupas karena 'cambukan', maka cukuplah sekadar cubitan.
***
Mungkin seperti juga keluarga yang lain, akhir pekan adalah jatahnya keluarga. Walau sekadar jalan-jalan atau memang untuk belanja pekanan di swalayan. Tentu saja hal ini menyenangkan. Tapi kerap kali selalu saja ada kejadian yang kadang membuat suasana menjadi tak nyaman. Itu sering terjadi ketika ingin membeli susu untuk anak. Padahal, susu itu harus dibeli setidaknya setiap dua pekan sekali.
Nah...
Ketika memasuki blok yang berisi aneka ragam susu, maka yang muncul pertama kali adalah rasa jengah. Bukan apa-apa. Di setiap tumpukan susu itu selalu ada sales promotion girl (SPG) yang mejeng di dekatnya. Tentu saja, rata-rata masih muda. Jangan heran, karena tuntutan pekerjaan mereka pun akan sigap untuk menawarkan produknya.
Buat saya, hal itu pun sebenarnya tak terlalu masalah. Tentu saja dengan syarat yang saya buat secara sepihak. Boleh, asalkan tak terlalu ngotot atau berlebih-lebihan mempromosikan produknya.
"Dedeknya biasa minum susu itu ya, Pak?"
Nah, benar kan. Salah seorang dari gadis itu telah berdiri di samping saya dengan membawa sebuah produk yang berbeda.
"Oh iya," sedikit acuh tak acuh.
Pandangan mata masih melekat pada sebuah produk yang sering dibeli seperti biasanya.
"Dedek umurnya berapa tahun, Pak?"
Ah, suaranya masih ramah. Sepertinya kali ini ditambah dengan senyum manisnya.
"Tiga tahun, baru Juni yang lalu."
Duuh, jawaban yang ini kok jadi lebih panjang ya?
"Oh, kalau sudah tiga tahun lebih baik produk ini, Pak," katanya, cepat.
"Kandungan kalsium-nya lebih banyak. Ada juga vitamin A, B, D, omega 3 atau asam linoleat. Pokoknya komplit deh," sambungnya lagi.
"Oh iya? Coba saya lihat."
Tuh kan, jadi tertarik.
Kemudian kedua belah tangan memegang produk susu yang saling berbeda. Melihat komposisi yang tertera, membandingkan satu dengan yang lainnya. Tak lupa sambil mengangguk-anggukkan kepala, biar dianggap mengerti dengan apa yang dibaca.
"Lho, ini fungsinya apa ya? Kok di susu yang biasanya saya beli nggak ada?"
"Oh, ini nukleotida. Penting banget untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak."
Duuuh, kok pintar ya? Oalaah...
Akhirnya jadi penasaran, "Kok tahu banyak sih, Mbak? Kan kayaknya belum punya anak. Atau jangan-jangan belum nikah, ya?"
Nah... nah... nah...!!!
Ketika ini sudah terjadi, maka tak perlu lama dan bersusah payah mencari seutas cambuk kecil. Cukuplah terlebih dahulu sekadar cubitan dari sang istri agar segera sadar dan tak lupa diri,
"Aduh!!!"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.