|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
ferryhadary |





Selasa, 6 Oktober 2009 pukul 19:57 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Langit begitu memesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Suguhan orkestra dari penghuni malam laksana simfoni indah. Seketika romansa pun tercipta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.
Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal. Namun...
Sayup terdengar seruan. Semakin lama kian lantang, "Haiya 'alal jihad... Haiya 'alal jihad...!!!"
Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Ia bergegas bangkit dari pangkuan belahan hatinya. Cepat pula tangan meraih sebilah pedang dan perisai.
Kekasih sesaat tercekat. Melagukah hati karenanya? Tidak! Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do'alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah.
Perang berkobar. Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Setindak kemudian ia ikut melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedang berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas.
Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang. Nyawa gembong kaum musyrikin itu ada di ujung pedang. Tapi ia lengah. Dari belakang musuh yang lain menusuk. Memerih. Ia tercenguk. Terjengkang.
Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud.
Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur. Padahal sedari tadi hujan tak mengguyur, setetes pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Mereka menemui istrinya yang kemudian menjawab, "Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku langsung menyambut. Padahal ia dalam keadaan junub."
Rasulullah lalu bersabda, "Ia telah dimandikan oleh malaikat."
Benar. Bagi sang syuhada, menyongsong seruan tersebut adalah perwujudan cinta sucinya. Walaupun malam pertama belumlah usai diarungi bersama kekasih yang juga dicintainya.
Majulah sahabat mulia / Berpisah bukan akhir segalanya
Lepas jiwa terbang mengangkasa / Cita kita tetap satu jua
(Izzatul Islam : Untukmu Syuhada)
Allahu a'lam bish-shawaab.
Ide tulisan ini adalah sebuah kisah tentang Handzalah bin Abu Amir, yang dijuluki Ghasilul Malaikat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.