Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Belajar dari Pak Tino
27 Juli 2009 pukul 16:00 WIB
Al-Bashri dan Gadis Kecil
30 Juni 2009 pukul 19:30 WIB
Tenggelam dalam Lautan Cinta
26 Mei 2009 pukul 19:40 WIB
Lain Dunia
21 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Potret Perjuangan Seorang Ibu
4 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 4 Agustus 2009 pukul 19:21 WIB

Lelaki Impian

Penulis : Ferry Hadary

Pendiam. Murah senyum. Lebih sering mendengar ketimbang berbicara. Tapi, sekali berkata, banyak orang terpengaruh. Juga terperangah. Pertama kali saya berkenalan, ia nampak biasa-biasa saja. Saya mengoceh, bahkan sok menggurui. Ia hanya diam dan menyimak.

Dalam banyak pertemuan, ternyata ia menjadi nara sumber. Jika tidak, selalu ada waktu yang disediakan untuknya. Untuk memberikan kata-katanya. Artinya, ia tergolong orang yang diminta bicara. Sambutan dan tanggapan darinya selalu dinanti. Kata-katanya menyentuh. Sarat hikmah. Penuh perhitungan. Di sela-sela kalimatnya, senantiasa mengalir satu dua ayat Al-Qur'an. Karena itu, teman-teman tiada pernah bosan mendengarkannya berbicara. Sekarang barulah saya sadar, ternyata dia orang hebat. Lelaki impian.

Mendengar adzan, tubuhnya langsung melesat menuju sumber bunyi. Apa pun kondisinya. Dengan gagah ia duduk bersimpuh di shaf terdepan. Tangannya memegang mushaf. Matanya menatap tajam ke setiap ruas-ruas ayat. Khusyu'.

Di sisi lain, berkumpul padanya sumber-sumber ancaman. Fitnah. Ia memiliki kesenangan dunia yang menggiurkan. Dan, menggoda. Betapa tidak, wajahnya tampan. Anak orang kaya. Bapaknya pejabat negara. Termasuk salah satu jajaran elit pemerintahan. Ditambah otaknya yang cerdas. Bicaranya memukau dan menyentuh. Dengan semua itu, surga dunia menghampar di hadapannya. Pintu popularitas terbuka lebar. Dalam kamus kehidupan, betapa semua nikmat ini sangat potensial menutup akselerasi hidayah. Segala kemungkinan-kemungkinan untuk terhalang dari hidayah ada pada dirinya.Tapi, ia tetap ia.

Semua gelombang fitnah itu dialihkannya ke dalam pintu-pintu hidayah. Seringkali rekan dan adik-adiknya tersadar dengan sikap dan kepribadiannya. Walau ada kekurangan, kita perlu melihat sisi positif padanya. Pada siapa saja. Agar muhasabah lebih dominan dari hujatan dan kritik.

Dalam sejarah, Mush'ab bin Umair RA terpilih menjadi delegasi pertama Rasulullah SAW. Ia mendapat kehormatan meng-handle tugas Nabi di Madinah, menjadi duta luar biasa dan berkuasa penuh. Ternyata ia diutus bukan karena retorika ansich. Ada yang menarik dari perjalanan hidupnya. Yakni, proses berislamnya yang mengagumkan. Sahabat ini termasuk orang-orang yang berani mengambil keputusan hijrah. Berani berubah. Dan, siap sabar menjalani masa peralihan. Lalu, dengan tegap merubah haluan kehidupannya. Padahal, sebelum hijrah, segala fasilitas duniawi terbentang untuknya. Karena hijrah, ia pun terhormat.

Lalu, kita mengenal sosok Uwais Al-Qarniy. Lelaki yang takut terkenal. Kita dapati keterbatasan yang dimilikinya tidak mampu meredam antusias Umar Al-Faruk yang selalu mencari-cari keberadaannya. Umar merindukannya. Walau ia sangat sederhana dan terbatas. Sayangnya, orang seperti Uwais sulit terdeteksi. Bisa jadi hanya orang seperti Umar saja yang mampu melihat dan menghormati sosok seperti Uwais.

Kita dan umat ini begitu membutuhkan pasokan orang-orang seperti mereka. Mereka begitu handal menceramahi kita dengan kenyataan. Dengan qudwah. Pesan-pesan sampai tidak melalui kata-kata. Atau, selaras dengan ungkapan Muhammad Ahmad Rasyid, "Rijâl yutarjimûn al-maqâl."

Dikutip dari Lelaki Impian - Suhartono TB - Sinai Online

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1186 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels