|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
ferryhadary |





Senin, 21 September 2009 pukul 15:30 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Alhamdulillaah, akhirnya lebaran tiba juga. Hari yang dimaknai sebagai hari kemenangan serta dirayakan jutaan umat Islam di seluruh dunia. Entahlah, apakah saat itu kita menjadi pemenang atau pecundang. Tetapi semua orang merasa berhak untuk merayakan. Termasuklah di antara umat Islam itu adalah penulis dan keluarga yang saat itu harus kembali merayakannya di Jepang.
Selama pernah merayakan enam kali lebaran di Jepang, awal dan akhir Ramadhan ditentukan oleh sebuah komite yang dibentuk dari wakil organisasi-organisasi Islam yang ada di Jepang. Komite itu disebut dengan Ruet e Hilal Committee of Japan (Komite Ru'yat Hilal Jepang). Sehingga umat Islam yang menjadi minoritas serta tak memiliki banyak ahli agama, hanya menunggu pengumuman. Jika saat penentuan itu hilal tak tampak di Jepang, maka komite memutuskan untuk mengikuti negara Malaysia yang secara geografis lebih dekat dengan Jepang. Karena itu, awal dan akhir Ramadhan menjadi lebih mudah, serta diharapkan tak terjadi perbedaan. Ironis, jika perbedaan itu justru sering terjadi di Indonesia dimana umat Islamnya mayoritas, bahkan begitu banyak ahli agamanya.
Memang. Perbedaan dapat membuat banyak hal menjadi indah, bagaikan ragam jenis bunga yang tumbuh di taman. Semua berpadu menyemburatkan nuansa keindahan. Menggoda banyak mata untuk meliriknya. Namun yang diharapkan, walaupun mempunyai kepentingan sendiri, jangan sampai menutupi kepentingan bersama untuk menegakkan qalam Illahi di muka bumi. Mungkin benar apa yang dikatakan Iqbal, penyair terkenal di zamannya. Umat ini bagaikan daun-daun gugur berhamburan yang diterpa angin. Tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali. Itulah kenyataan. Begitu banyak orang shaleh, orang hebat, dan potensi yang besar di antara kita. Namun semuanya bagaikan hamburan dedaunan. Berserakan di sana-sini, tiada arti.
Walaupun jauh dari mayoritas umat Islam yang merayakan lebaran, penulis dan keluarga juga ingin turut merayakannya dengan meriah. Beberapa balon dan pita warna-warni turut mewarnai ruang keluarga yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, bahkan ruang tidur karena sempitnya area "rumah" di Jepang. Memang tak terdengar takbir dari tetangga kiri kanan di apartemen yang kami tempati. Namun, semua itu tak mengurangi kebahagiaan di relung hati.
Sejak subuh di hari fitri itu, sekeluarga sudah sibuk sekali. Memaksa anak untuk mandi, termasuk menyiapkan makanan khas Indonesia yang akan dinikmati bersama jama'ah dari negara lainnya. Di sekitar daerah kami, sulit sekali menemukan daun kelapa muda untuk dijadikan ketupat, sehingga tak mungkin membuatnya. Mungkin daun tersebut hanya dapat ditemukan di pasar tradisional Ueno, suatu tempat yang terletak di sekitar Tokyo.
Walau udara dingin di musim gugur telah mengigit kulit, tak menghalangi kami sekeluarga menuju ruang serba guna di Kokusai Kouryuu Kaikan (International House), Kyushu Institute of Technology, tempat penulis menyelesaikan program S3. Sambil bersepeda, yang kadang dikayuh atau didorong ketika menanjak, tak lupa mulut bersenandung takbir, memuji Sang Illahi. Bersama merentas jeruji cahaya mentari yang masih malu menembus putihnya awan. Diiringi megahnya simfoni alam yang melantunkan senandung tasbih dan tahmid dari tetesan sisa-sisa embun di tanah. Suasana pagi yang indah dan mempesona pun sekejap tercipta.
Di jalanan, kami juga berpapasan dengan banyak orang yang penuh semangat berolah raga. Ada yang hanya berjalan santai menghirup udara segar. Ada pula yang berlari-lari kecil dan tak sedikit yang terlihat menuntun anjingnya yang bergerak lincah ke sana ke mari. Wajah-wajah mereka terlihat segar dielus lembut cahaya mentari. Namun, yang jelas mereka tak menuju satu arah yang sama dengan kami sekeluarga.
Tak ada ucapan "Taqabballaahu Minna wa Minkum, Taqabballaahu Ya Kariim". Tak ada pula sekadar ucapan "Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin". Karena yang terdengar hanyalah ucapan "Ohayou Gozaimasu" (Selamat Pagi). Entah mengapa pula mereka terlihat lebih ramah. Mungkin, karena sifat keramahtamahan orang Jepang berasal dari pepatah kuno saat upacara minum teh, yaitu ichigo ichie (hargailah setiap pertemuan dengan orang lain, karena mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi lagi). Namun, yang jelas lisan adalah sesuatu yang lahir dari hati. Apalah artinya ucapan "Maaf Lahir Batin" jika itu sekadar basa basi dan tak keluar dari hati.
Setibanya di ruang serba guna, penulis dan keluarga kemudian bergabung dengan saudara-saudara seperti dari Malaysia, Bangladesh, India, Tunisia, India, dan dari negara lainnya. Tak banyak memang, hanya dalam kisaran 30 orang. Shalat Eid pun segera dilaksanakan dengan imam dari Bangladesh dimana mayoritas di sana adalah bermadzhab Hanafi. Agak sedikit berbeda pelaksanaannya dengan yang biasa dilakukan di Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi'i. Tapi semestinya di situlah terletak indahnya Islam. Berbeda tentu saja tidak mengapa asalkan jelas dalilnya. Berbeda pun tak seharusnya memutus persaudaraan.
Usai khutbah, tibalah party alakadarnya. Aneka jenis makanan khas dari negara masing-masing tumplek di meja. Entah apa pula namanya. Apakah mengundang selera atau justru pertanyaan karena bentuknya, itu pun tak menjadi persoalan. Bukankah yang terpenting adalah rasa persatuan dan persaudaraan yang dibingkai keikhlasan?
Di atas meja, tak terlihat ketupat dari bahan dasar khas nasi Indonesia terbungkus daun kelapa muda yang mengingatkan penulis pada suasana lebaran di kampung halaman. Yang tampak di antara aneka ragam makanan hanyalah nasi berbentuk jajaran genjang, berbungkus plastik seukuran kepalan tangan orang dewasa, yang mungkin disebut ketupat lebaran made in Japan.
Memang. Tak ada tradisi sajian ketupat dibungkus daun kelapa muda yang mengundang rasa dan khas aroma berbeda. Opor ayam, gulai, sambal ati goreng, rendang, sayur lodeh, emping melinjo pun hanyalah sebatas khayalan. Tetapi bukan ketupat atau made in siapa pembuatnya yang menjadikan lebaran sebagai hari kemenangan. Karena walaupun jauh dari kampung halaman serta handai taulan, di situlah tampak jelas rasa persatuan dan persaudaraan. Sehingga rasa ukhuwah Islamiyah di hari fitri akan lebih bermakna walau hanya dengan menyantap ketupat lebaran made in Japan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.