|
QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
|
|
|
ferryhadary |





Sabtu, 3 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Ada sebuah kebiasaan di kampung halaman saya, Pontianak, setiap hari Lebaran. Orang Melayu biasa menyebutnya "nanggok". Entah disebut dengan istilah apa di daerah yang lain. Begitulah, baru saja orang-orang tiba di rumah selepas Shalat Ied, lalu saling meminta maaf antara suami istri, anak kepada orangtua atas segala kekhilafan yang pernah dilakukan, tak lama kemudian akan terdengar salam dan ketukan, "Assalaamu'alaikum...!!!"
Teriak mereka ramai-ramai serta saling bersahutan. Begitu pintu dibuka, terlihat serombongan anak-anak tetangga, kampung sebelah, atau entah dari kampung antah berantah telah berdiri dengan manis di depan pintu rumah.
Setelah basa-basi mengucapkan Selamat Hari Raya dan bersalaman, maka pada saat itu juga tuan rumah menyelipkan lembaran uang pada setiap anak. Banyakkah yang harus diberikan? Tidak, berapa saja jumlahnya. Bocah-bocah tanggung itu pasti senang menerimanya dengan suka cita. Sementara yang memberi pun tentu suka rela. Entah nanti uang itu mau ditabung untuk membeli peralatan sekolah, jajan, petasan, atau modal perang-perangan meriam karbit di tepi Sungai Kapuas, silahkan saja. Toh itu sudah menjadi milik mereka yang mungkin hanya bisa dinikmati setiap tahunnya.
Nah...
Tradisi unik setiap Lebaran inilah yang disebut nanggok, yang konon kabarnya masih terjadi hingga hari ini. Entah sejak kapan tradisi ini mulai ada di kampung saya. Karena itu sudah terjadi sejak saya adalah seorang bocah ingusan sampai sekarang telah mempunyai anak yang kadang juga suka ingusan.
Karena itulah tak heran jika beberapa hari sebelum Lebaran, maka banyak orang yang antri di bank untuk sekadar menukar uang pecahan, seribuan, lima ribuan, bahkan sepuluh ribuan. Bagi setiap rumah yang dikunjungi, biasanya si empu rumah juga senang. Mereka pun tak bermaksud memberikan uang itu sebagai pemborosan, tetapi mungkin lebih sebagai wujud kasih sayang kepada anak-anak. Setahun sekali menyenangkan hati mereka, bukankah itu tak mengapa?
Hey...!!!
Ternyata sungguh aneh bin ajaib. Tradisi nanggok ini tak hanya ada di kampung saya, tetapi terjadi pula di mana-mana. Bahkan pelakunya bukan saja anak kecil, tetapi juga orang dewasa.
Sebagaimana anak-anak yang berpakaian rapih saat mengunjungi setiap rumah ketika Lebaran, para orang dewasa ini pun tak mau kalah. Ada yang berpakaian batik, safari, hingga jas yang harganya bisa berjuta-juta. Mereka ini pun lebih kreatif, tak hanya ada ketika Lebaran, tetapi kapan saja waktunya. Jika khawatir kepergok wartawan kalau nanggok di rumah, orang-orang dewasa ini bisa melakukannya di balai desa, kelurahan, kecamatan, instansi pemerintah --baik dalam atau di luar negeri-- hingga gedung terhormat anggota dewan. Tak ada rasa malu atau sungkan. Bahkan, tak jarang ketika nanggok mesti disertai ancaman ala preman.
Bagi para bocah, selembar uang seribuan cukuplah untuk sekadar sehari dua hari membuatnya bersenang-senang. Tetapi tidak bagi orang dewasa tersebut. Dengan otak mereka yang tentu lebih lihai dan berpengalaman, kadang digantilah lembaran uang itu dengan sehelai kertas yang tertera begitu banyak digit angka. Teknologi canggih juga perlu dimanfaatkan. Tak perlu sowan ke rumah atau bertemu muka, transfer antar rekening pun dianggap mempermudah dan barangkali lebih aman.
Tak heran hasil nanggok --dari orang-orang yang mestinya justru harus dibantu-- menjadikan banyak orang kaya mendadak. Mobil dan rumah mewah, harta untuk tujuh turunan, bahkan simpanan di bank untuk istri mudanya yang dinikahi di bawah tangan. Pelesiran ke luar negeri hingga sekadar merayakan pesta ulang tahun yang super mewah bagi anak atau istrinya. Sementara di luar sana begitu banyak orang miskin yang mati karena berdesakan nanggok uang subsidi dari kompensasi BBM yang tak seberapa.
Duuh...!!!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.