|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
ferryhadary |





Selasa, 13 Oktober 2009 pukul 15:20 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Anak adalah anugerah Sang Pemiliknya
Dititipkan untuk dipelihara hingga tumbuh dan merekah
Kadang indah, tak jarang pula sebaliknya
Namun...
Bukan hak kita untuk bertanya, mengapa?
Karena kita hanya diminta menyiraminya dengan kasih sayang dan cinta
Mereka tampak sukses dan bahagia. Sebagai seorang pegawai bank milik asing di Tokyo, sang suami tentu mempunyai penghasilan yang lebih dari cukup untuk menafkahi keluarga. Rumah yang baru saja ditempati juga menandakan keberadaan mereka. Kebahagiaan itu semakin bertambah, karena akan lahirnya buah hati tercinta. Lalu, hari-hari menjadi penuh canda tawa dan suka cita.
Waktu berlalu, dan saat kelahiran yang dinantikan itupun tiba.
Wajah yang bersimbah butiran keringat, kelelahan teramat sangat dan sisa-sisa darah yang masih melekat tak menghilangkan fitrahnya sebagai ibunda untuk segera melihat ananda tercinta. Namun tubuh mungil yang baru saja menyapa dunia dengan tangisannya itu tampak berbeda dari bayi biasa. Hasil pemeriksaan pun menunjukkan ada kelainan kromosom, karena terjadi penambahan kromosom pada kromosom ke-21-nya.
Walaupun diperkirakan oleh dokter bahwa buah hati tercinta tak akan hidup lama di dunia, namun kedua orangtua itu memeliharanya dengan segala curahan cinta kasih mereka. Sebagaimana anak yang terlahir 'istimewa', perkembangan mentalnya sangatlah lamban. Di saat bayi-bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, anak laki-laki yang diberi nama Akiyuki itu hanya bisa diam, menatap dengan pandangan kosong ke depan.
Bulan demi bulan berlalu, ia pun tumbuh dengan segala ciri khasnya. Wajah yang sangat spesifik mongolism, tulang dahi yang tampak lebih datar, mata kiri dan kanan agak berjauhan, serta posisi daun telinganya lebih rendah. Ditambah lagi, ada kelainan pada jantung dan fungsi pencernaan.
Akiyuki kun pun baru dapat belajar berdiri setelah usianya mencapai dua tahun tujuh bulan, walau dengan kaki yang terlihat goyah. Tak terkirakan betapa bahagia kedua orangtua itu saat melihatnya, sehingga wajah mereka beruraian air mata bahagia. Dan di saat telah berusia enam tahun, ia pun hanya bisa berbicara dengan gagap, tak selancar anak-anak seusianya. Namun betapa prestasi kecil itu membuat suami istri tersebut bersuka cita.
Menyadari usia anak semata wayang mereka yang mungkin tak akan berusia panjang, segala kegiatan tercurahkan untuk membuat ia gembira. Bermain air di musim panas, membuat istana pasir di pantai, menikmati taman yang penuh bunga, dan menitipkannya pada sebuah tempat penitipan anak agar ia bisa pula bermain-main dengan teman sebayanya. Mereka sama sekali tak menyisihkannya dari pergaulan, sehingga Akiyuki kun juga dapat menikmati keceriaan di masa kecilnya.
Ia bisa mengikuti lomba lari di acara undoukai. Walaupun langkahnya terhuyung-huyung dan akhirnya terjatuh serta mencapai finish di urutan belakang, namun orangtuanya menyambut dengan air bening mengembang di mata, bahagia dan bangga. Dengan jari-jarinya yang pendek dan koordinasi gerakan yang lemah, ia pun bisa pula memecahkan buah semangka dengan sebuah tongkat kayu, 'menggambar' pesawat terbang, dan lain sebagainya.
Akiyuki kun bisa membuat orangtuanya bahagia dan bangga karena kehadirannya di dunia, padahal ia lahir dan tumbuh dengan segala kekurangan. Walaupun tak pernah dan tak akan mungkin pernah sama dengan apa yang bisa diperbuat oleh anak-anak normal, namun pasangan suami istri itu tak memberikan sekedar cinta kepada buah hatinya. Utuh, bukan sekedarnya saja, apalagi hanya berupa sisa.
Mereka tak malu membawanya berjalan-jalan dan berbelanja. Mengajak ia bermain, hingga mendidiknya dengan baik. Saat malam menjelang, senandung pengantar lelap tak lupa menemaninya ke alam impian. Cinta mereka memang tulus dan ikhlas, sebagaimana yang mestinya dimiliki semua orangtua.
Hingga di suatu pagi, dalam pelukan dingin karena sisa butiran salju, seperti biasa sang ibunda membangunkannya untuk diajak sarapan bersama. Dipanggilnya ananda dengan lemah lembut penuh kemesraan seraya membuka pintu kamar. Namun, Akiyuki kun hanya terdiam, tak ada jawaban. Dalam usia begitu muda dan diiringi simbahan tangis bercucuran, Akiyuki kun telah pergi dan tak akan mungkin kembali lagi dalam pelukan kasih sayang kedua orangtuanya.
Kehidupan Akiyuki kun yang singkat telah mengajarkan tentang makna cinta tanpa pamrih orangtua kepada anaknya, terlepas dari segala kekurangan atau pun kelebihan mereka. Di saat banyak orangtua lain begitu mengharapkan agar anak-anaknya menjadi paling pintar, berprestasi, bahkan menjadi bintang berbagai kegiatan, anak-anak seperti Akiyuki kun tak akan mungkin bisa bersaing dengan mereka.
Namun...
Adakah orangtua yang ingin buah hatinya terlahir dan tumbuh berbeda dengan anak-anak lainnya? Atau, apakah karena kekurangannya itu akan mengurangi cinta kita sebagai orangtua?
Akiyuki kun dan mereka yang menderita keterbelakangan mental bukanlah aib atau pun nista, karena mereka pun sebuah amanah. Apakah kita berhak menggugat Sang Pemiliknya jika dititipkan anak-anak yang berbeda? Kita mungkin tak akan memperoleh apa-apa, karena sebagai orangtua kita memang hanya diminta untuk mengasuh, menjaga, dan mencintai mereka, tanpa mengharapkan balasan apa pun darinya.
Sesungguhnya, orangtua Akiyuki kun telah memberikan banyak pelajaran. Walaupun mereka tak pernah tahu bahwa anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun aku yakin, mereka pasti mengerti bahwa anak adalah sebuah anugerah yang sangat berharga.
Sungguh...
Dua jam penayangan drama Tatta Hitotsu no Takaramono di Nihon TV itu berulang kali membuat lensa kacamataku berembun. Tak kuasa menahan air bening yang menggantung di sudut mata, wajahku pun beruah air mata.
Catatan
Undoukai : Pesta olahraga yang biasa dilakukan di sekolah-sekolah.
Tatta Hitotsu no Takaramono : Hanya satu-satunya milikku yang sangat berharga.
-Dikutip kembali dari buku Sapa Cinta dari Negeri Sakura-
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.