|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Ahad, 7 November 2010 pukul 17:30 WIB
Penulis : Aw Wibowo
"Mengapa engkau memilih dia, Kawan?" sepotong kata jatuh berdenting di telinganya.
Hening. Wajahnya masih termangu. Tatapan matanya lurus seakan menyibak sekat pintu masa lalu. Kembali ia mengingat. Dimana dahulu, ia meminta wanita itu menjadi tambatan hatinya. Tempat bersandar melabuhkan cintanya.
"Karena ia berbeda, Sobat."
Kulit ari di keningku mengkerut. Belum jua kumengerti maksudnya, ia kembali menggerakkan coklat bibirnya.
"Ia berbeda dari kebanyakan wanita yang kutemui. Wanita yang pernah juga kucintai. Dan mencintaiku. Aku merasa tertantang kata-katanya, untuk menikahinya. Berlayar bersama, berpadu dalam lautan asa bernama rumah tangga."
"Tapi, Kawan, apa yang membuat wanita yang telah engkau nikahi berbeda dengan sosok wanita lain yang pernah mencintaimu?"
"Kini kutahu perhatiannya, Sobat. Ya, perhatiannya pada diriku. Tatkala diriku tergolek lemah dalam kebimbangan, ia memberikan keteguhan senyuman, membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tentang dirinya. Bahkan kami tak melewati masa pacaran. Masa yang kata orang kebanyakan adalah masa penjajakan, pengenalan pasangan. Ia tak mau. Tegas, tak kan pernah mau. Engkau ingin tahu, Sobat, kenapa? Baginya pacaran hanyalah cara merendahkan martabat dia juga kaumnya. Akar cabang budak nafsu. Ada yang mengatakan pacaran itu ungkapan rasa kasih sayang. Gombal! Mulut buaya yang menganga, bahaya. Tipu daya berbuah celaka. Adakah sekarang, pacaran dalam batas cuma saling berbicara, curhat, berbagi uneg-uneg. Tak ada! Pacaran melebih batas itu. Awalnya berduaan, saling bersentuhan. Kelamaan bisa terjerembab dalam 'kissing, necking, petting, dan intercourse'. Akhirnya 'maried by accident' yang menjadi solusi. Yang dirugikan wanita juga kan. Ah, kalau pacaran sekedar basa-basi, ngobrol ngalor-ngidul. Mending sama nenek gue aje. Begitu celoteh seorang kawan, Sobat."
Aku jadi termenung. Hanyut tenggelam oleh katanya barusan. Keheningan menguasai diri kami, hingga seutas pertanyaan menyentak.
"Kawan, tanpa mengenalnya lebih dahulu. Bahagiakah pernikahanmu?"
"Ya, telah kurasakan kebahagiaan, melampaui bahagianya orang berpacaran yang dipenuhi topeng kebaikan. Meski belum mengenalnya, justru darinya aku belajar mencintai. Cinta itu tak tumbuh dengan sendirinya, Sobat. Melainkan ditanam, dipupuk, dan disiram. Cinta melewati batas suka atau tidak suka, melintasi ego itu sendiri."
"Ya."
Hembusan panjang nafas, mengakhiri percakapan kami. Kutahu kini, mengapa ia memilih dia.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.