HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Memiliki Kehilangan
19 Agustus 2010 pukul 18:15 WIB
Ketekunan dalam Menjemput RejekiNya
15 Agustus 2010 pukul 17:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 5 September 2010 pukul 17:30 WIB

Dalam Balutan Sederhana Itu, Tersimpan Mutiara Ilmu

Penulis : Aw Wibowo

Janganlah menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Ah, paling tidak, hari itu aku tertampar oleh pelajaran moral ini. Di suatu pertemuan yang sangat biasa namun berkesan di hati.

Pak Dedi namanya. Pria berumuran lima puluh tahunan. Awalnya aku menduga ia hanyalah seorang biasa saja, seperti 'kenek' truk pada umumnya. Bekerja, berkeringat campur debu. Kaos yang memudar, bau sengatan matahari. Sepatu boot tinggi, sekedar menghalangi panas batubara yang dipijaknya. Sekop erat digenggamnya. Membiarkan rambut dibelai angin. Mengikhlaskan kulit disentuh sinar matahari. Di atas kabin truk, ia berdiri menantang asap panas yang sesakkan dada.

Namun siapa sangka. Dalam tubuh berbalut busana sederhana. Ternyata menyimpan mutiara. Mutiara ilmu yang kan menerangi orang-orang disekitarnya. Tak berlebihan kugambarkan demikian.

***

Di siang yang meluapkan hawa panas tanah berdebu. Berteduh di antara bayang-bayang kabin kendaraan, aku bercakap dengan Mang Naya -seorang sopir dump truck yang biasa mengambil muatan di stockpile tempatku bekerja. Sejenak kami menikmati obrolan. Entah kenapa tiba-tiba mataku tercuri perhatian kaos yang dipakai Mang Naya. Biru tua bersketsa benteng tua peninggalan zaman Belanda. Di bawahnya berderet sebuah kalimat 'Jogja Never Ending'. Sembari senyum, kutunjuk deretan kata itu. Seakan bertanya apakah arti kalimat itu. Mang Naya balas tertawa kecil hingga terlihat barisan giginya yang masih utuh.

'Kalo mau tau bahasa Inggris, tanya aja sama adik saya, Pak Dedi. Kenek saya itu lho,' ucap Mang Naya sambil terkekeh.

Seketika dahiku mengkerut, senyuman pun berubah tanya. Benarkah apa yang diucapkan Mang Naya barusan?

Dari sudut bangunan, tampak sesosok tubuh berkaos orange datang mendekat menghampiri kami. Berjalan tenang di antara gumpalan debu yang tersaruk sepakan sepatu bootnya. Hawa panas yang mengerubungi tak dihiraukannya.

'Nah, itu Mang Dedi!' seru Mang Naya.

Setelah mendekat, kemudian Mang Naya menunjuk barisan kata di kaosnya. Memahami maksud tadi, Mang Dedi mulai mengeja kata.

'Never berarti tak pernah. Ending berarti berakhir. Jadi, Jogja tiada akhir.'

Aku tersenyum. Membatin. Toh semua orang mengerti maksud kalimat itu. Dan menganggap hanya angin lalu.

***

Beberapa minggu sesudahnya. Di waktu Mang Dedi melintas di teras mes kamar, segera sapaan hangat kuucapakan.

'Mau ke mana, Mang?'

'Di sini aja kok.'

'Katanya bisa bahasa Inggris, Mang?'

'Ah, kata siapa.'

Mang Dedi masih merendah. Kurasa ia terkejut dengan pertanyaan itu.

'Dari Mang Naya, kemarin.'

Mau tidak mau Mang Dedi mengakuinya.

'Iya, tapi agak lupa. Udah lama.'

'Coba, Mang, sedikit saja dengan percakapan.'

'How are you student?'

Bla.. bla.. bla..

Aku tertegun, terpaku dalam kagum. Berbahasa Inggrisnya lancar, seperti bahasa ibunya sendiri-bahasa Sunda. Ia bermonolog, bercakap antara seorang guru dengan muridnya. Gerak tangannya lihai memperjelas bahasanya.

'Apakah Anda sudah berkeluarga?' tanyanya kepadaku tiba-tiba dalam bahasa Inggris.

Sontak kelopak mataku melebar. Kaget. Kelu, lidah tak mampu berucap. Berpikir keras. Mengerti apa yang ia tanyakan. Ketika akan menjawab 'belum'. Malahan terbuka kata 'acan', ah, itu kan bahasa Sunda. Wah, rupanya sekian lama aku tak belajar bahasa Inggis, lupa menaruh kata 'belum'nya di mana. Malu. Bergetar bibir berucap,

'Belum.'

'Not yet,' ia berucap tegas.

Rasanya warna kesombongan diriku luntur. Tembok kebanggaan yang selama ini mengukuh seketika runtuh. Di hadapannya aku merasa kecil.

Pak Dedi masih serius berucap. Aku memanggut. Tertunduk. Beberapa maksudnya bisa kupahami. Ketika ia bertanya lagi. Aku tergagap. Tak mampu berucap. Lama. Ia masih menunggu. Belum juga aku berkata, ia melanjutkan kembali monolognya. Huff...

Beberapa teman ikut bergabung. Merasakan keluwesan bahasanya. Sepakat kami mengakui ia jago. Kemudian karena ada kewajiban yang harus ditunaikan, ia pamit.

***

Matahari masih mentereng dengan kilaunya. Dalam hawa panas berpeluh. Dengan tiupan angin membawa debu. Kujumpai lagi Mang Dedi. Lalu ia bercerita. Dulu selama kurang lebih tiga tahun, ia menempuh pelatihan bahasa Inggris. Kemudian mengajar sebagai guru private rentang tahun 80-an sampai 90-an. Ia juga pernah menekuni menyopir angkot, lalu bus, beberapa tahun lamanya.

'Bagaimana dulu Mamang cara belajarnya?' tanyaku.

'Tiap hari menghafal paling tidak lima kosakata. Dibutuhkan sedikitnya seribu kata supaya bisa bercakap.'

'Cara lainnya ada gitu, Mang?'

'Ya, membiasakan dalam kegiatan sehari-hari. Misal, saya bangun pagi jam empat, mandi, lalu jalan pagi. Jam enam sarapan pagi, lauk telur dadar, dan sebagainya.'

Tahukah kawan, apa yang kurasa ketika itu? Gairah datang. Membayangkan, pasti aku bisa melakukannya. Jadi berani bermimpi. Namun, belum sempurna luapan gembiraku, ia kembali berucap yang seakan menghantam waktu mudaku.

'Tapi sekarang saya sudah tak berminat lagi dengan bahasa Inggris. Saya mencoba menghafal Al-Qur'an, walau beberapa ayat saja. Maklum, sudah tua.'

Ia pun mulai melantunkan beberapa ayat berkenaan dengan rizki. Suaranya yang bening seakan mampu menyejukkan hati. Ya, berbicara dari hati ke hati telah mengena. Berkesan dalam.

'Kamu masih muda. Masih banyak kesempatan kok. Belajar bahasa Inggris dan menghafal Al-Qur'an,' katanya meyakinkanku.

Selapis pernyataan pun mampir dalam benak. Mang Dedi yang sudah berusia sepuh masih mampu lancar berbahasa Inggris dan sekarang bersemangat menghafal Al-Qur'an. Mengapa diriku tak melakukannya? Bukankah terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Ah, betapa naifnya aku bila mengabaikan nasehatnya.

Kupandangi sosok Mang Dedi lebih lekat lagi. Wajahnya teduh bersahabat. Kini ia telah membuncahkan gairah baru dalam diriku untuk bersemangat belajar.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Achmad Fachrie | Pekerja IT
Subhanallah... KotaSantri.com makin lama makin berkembang, baik dari sisi content dan context. Semoga makin bermanfaat untuk para pembaca. Yang belum gabung, gabung aja... Barakallah :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1471 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels