Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Aku Pikir, Dewasa itu ...
18 November 2012 pukul 08:30 WIB
Berkah
12 November 2012 pukul 11:00 WIB
Keinginan dan Batas Waktu
6 November 2012 pukul 09:00 WIB
Sederhana Saja
22 Oktober 2012 pukul 12:00 WIB
Suatu Malam Usai Hujan
2 September 2012 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 15 Agustus 2010 pukul 17:00 WIB

Ketekunan dalam Menjemput RejekiNya

Penulis : Aw Wibowo

Terik tengah menginjak ubun-ubunku. Mata mengeryip sipit, pupil mengerdil, raut mengerut, katup bibir membuka, karena menahan silau dan panasnya yang menyapu hamparan bumi. Jalanan terasa terbakar. Tarian fatamorgana meliuk-liuk mengaburkan pandangan sekitar.

Aku pasrah. Dengan gontai, kuayunkan langkah mendekati tempat di ujung jalan perumahan. Sebuah saung berukuran 2x2 meter, beralas papan, berdinding potongan bambu setengah meter mengelilingi membentuk letter U, dipayungi atap dari asbes. Lumayan, berteduh di situ sedikit mengurangi hawa panas yang menjalar. Sisa-sisa peluh merembes membasahi kaos hitamku. Menimbulkan bau yang menyengat. Uh, kalau begini siapa yang mau berdekat denganku. Syukur, semilir angin persawahan membawanya pergi. Hilang digantikan kesejukan.

Seperti biasanya, jam istirahat sering kuhabiskan di tempat ini bersama beberapa teman. Hamparan padi nan luas menghadirkan suasana pedesaan. Damai. Tiupan angin pun sejuk menembus pori-pori. Tenang. Jauh dari kebisingan deru mesin pabrik dan kendaraan yang tiada henti bergerak.

Dari kejauhan lamat-lamat setitik hitam mendekat. Tampak seorang laki-laki yang mengayuh sepeda tua dengan keranjang diboncengnya. Rupanya ia seorang pedagang. Sosoknya berumur kisaran setengah baya, setelan hem lusuh dikenakannya, berpadu topi hitam bertuliskan beberapa huruf yang tak bisa kutangkap maknanya. Kulitnya legam, namun tubuhnya masih tegap. Perlahan ia menyandarkan sepedanya di depan saung tempat kami melepas lelah.

'Jualan apa, Mang?' sapa temanku yang penasaran setelah melihat dua buah ember dalam keranjang dan dua buah toples di atasnya yang diikat dengan potongan karet ban.

'Dawet, Cung,' jawabnya singkat.

'Ting.. ting.. ting..' terdengar denting sendok yang beradu dengan mangkuk beling di tangannya.

Aku diam saja. Memperhatikan. Dawet yang hadir di hadapan, belum jua menarik selera.

Beberapa ibu dan anak-anak tumpah ruah dari pintu rumahnya, mendekati pedagang tadi.

'Dawet, Mang! Satu, diplastik aja.'

'Jangan pake itu, Mang. Itu yang ijo.'

'Dikasih es ya, Mang.'

Suara berisik mereka saling bersahutan. Kulihat tangan pedagang gesit meramu dawet pesanan pembelinya. Dengan irus, ia mengambil cendol di toples atas, cincau di ember sebelah kiri keranjang, menuangkan air gula merah yang dibubuhi daun pandan, dan terakhir parutan es dalam keranjang kanan.

Setelah semua pembeli dilayani. Aku melirik ke arah teman. Memberinya sebuah isyarat. Tergoda akhirnya.

'Mau nggak dawet, Coy?'

'Sok, nggak apa-apa.'

Sebenarnya aku tak terlalu berselera. Namun teringat pesan Gola Gong dalam bukunya. 'Dengan membeli sekilo jeruk, lalu menjenguk seorang pasien di rumah sakit yang sendiri tidak ditunggui keluarganya. Kita akan mendapatkan pelajaran berharga.' Aku pun memesan dua mangkuk dawet, sambil bertanya jawab, mencoba menggali kisah kehidupan.

'Udah lama jualannya, Mang?'

'Iya. Dari tahun 1977, sebelum pabrik semen buka.'

'Hah,' aku terperangah. Ternyata sudah tiga puluh tahun lebih ia berjualan dawet.

'Dari dulu jualan ini aja, Mang?'

'Oh, sehari ganti. Kalau sekarang dawet, besoknya bubur. Biar pembeli tak bosan,' terangnya sambil menciduk bahan-bahan tadi.

Mangkok dawet di tangannya berpindah ke tangan kami. Di tengah melahap, ia mulai bercerita beberapa keping kehidupannya. Ia adalah anak seorang polisi. Walau begitu, ia tidak minder berjualan dawet. Kadang di jalan, ia mendapat cemooh. 'Anak polisi kok jualan dawet.' Ia hanya menanggapinya dengan singkat, 'Yang penting kan nggak jadi maling!'

Tiap hari ia berkeliling di perumahan, kadang melintas persawahan. Banyak yang diceritakannya dalam berdagang. Misal, pernah saking larisnya, dalam sekejap dawetnya habis dibeli buruh tebu di ujung persawahan sana, katanya sambil telunjuk menunjuk dan tertawa.

Hmm, sepeda tua di sampingnya yang berwarna kecoklatan termakan karat. Telah menjadi saksi lika-liku ketekunan hidupnya. Menemani perjalanan menjemput rejeki. Meski jaman telah berubah, pantang surut semangatnya. Mungkin sampai tutup usia, ia akan tetap setia menjajakan dawet. Ah, meski semakin hari kian tersisihkan jajanan modern yang lebih menarik dan menggoda ketimbang dawetnya. Ia tetap berikhtiar, rejeki Allah seluas bumi. Apapun jalannya, yang terpenting ialah halal dan barokah.

Setelah kuserahkan mangkuk dan membayar. Pedagang itu bangkit, mendorong sepeda yang kian rapuh. Mengayuh menjauh. Meninggalkan kami bersama sepenggal kisah.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hendi | Desain Grafis
Mari gabung di sini. Artikelnya bagus-bagus dan banyak hikmahnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2762 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels