|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |





Ahad, 18 November 2012 pukul 08:30 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Bagaimana bila kita sering main ke tempat penjual buah? Hitung-hitung ngobrol ini itu, tentang harga pasaran buah musim inilah, kualitas buahlah, mana yang rasanya manis dan mana yang asem, berapa lama buah bertahan, berapa untungnya menjual buah inilah, dan sebagainya.
Atau paling tidak, kita sempatkan sesekali datang ke tukang kayu. Menemani ngobrol atau cuma melihat-lihat saja. Sedikit banyak kita akan tahu, bagaimana kursi itu dibuat, kayu apa saja yang cocok untuk bahan pembuatan pintu, bagaimana mendesain rak-rak buku atau lemari, alat-alat apa yang dibutuhkan, berapa lama sebuah bipet selesai dikerjakan, dan lain-lain.
Atau punya teman yang berprofesi sebagai guru? Kita bisa bertanya soal bagaimana cara mengajar anak-anak dengan baik, suka dukanya mengajar di kelas, bagaimana menasehati anak kalau dia sedang malas belajar, meleraikan dua anak yang bertengkar, bagaimana cara mengajar agar anak-anak memperhatikan, dan seterusnya.
Aku pikir, semakin kita sering terbiasa mendengarkan, menyimak, atau bertanya hal-hal itu kepada mereka, sedikit banyak semakin pahamlah kita tentang dunia mereka.
Aku pikir, begitu juga dengan kedewasaan. Lebih sering kita membersamai orangtua, tetangga sebelah rumah, atau rekan kerja. Lalu menyimak setiap perkataan, obrolan, juga nasehat mereka tentang apa saja, dari soal hidup, berumah tangga, konflik sosial, tentang beras dan pangan, bagaimana bertetangga yang baik, mendidik anak-anak, pandangan mereka tentang anak muda jaman sekarang, beban biaya sekolah, pekerjaan, hutang piutang, pilihan kepala desa, sampai dikasih soal tips mencari dan memilih jodoh yang baik. Kitapun sedikit banyak akan tahu, mengerti, lalu memahami, seperti apa seluk beluk dunia 'dewasa' itu.
Kadang kita berpikir, ukuran dewasa itu tak ditentukan oleh umur. Teramat benarlah. Mungkin dari kita pernah membatin, menjumpai mereka yang sudah menikah, berkecimpung dalam dunia rumah tangga, tetapi perilakunya seperti anak muda kebanyakan, cenderung labil dan galau. Mungkin kita juga sering menemui, anak belasan tahun, masih sekolah, namun dia tahu ekonomi keluarganya. Tak jarang mereka memperoleh uang saku dari kepal tangan mereka sendiri. Menyisihkan sebagian keinginannya.
Umur bertambah itu pasti, namun dewasa itu pilihan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.