QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://arif_wibowo.kotasantri.com
Bergabung
31 Maret 2009 pukul 05:16 WIB
Domisili
Klaten, Cirebon - Jawa Tengah, Jawa Barat
Pekerjaan
Karyawan Swasta
why_klt@yahoo.co.id
http://facebook.com/awwibowo
Tulisan Aw Lainnya
Berandal
22 Juli 2012 pukul 15:00 WIB
Topeng Berdarah
10 Juni 2012 pukul 11:00 WIB
Si Mulut Api
29 April 2012 pukul 12:00 WIB
Keberuntungan Si Joe
18 Maret 2012 pukul 10:00 WIB
Surat untuk Kawan Kost
30 Januari 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 2 September 2012 pukul 14:00 WIB

Suatu Malam Usai Hujan

Penulis : Aw Wibowo

Bulan separuh. Dingin membias di kota ini. Sudut-sudut gang gelap dirayapi gerombolan tikus-tikus got. Mengaduk-aduk sampah yang berserakan. Bau pesing menyeruak menusuk penciuman. Puih. Padahal jelas di dinding salah satu rumah tertulis dengan huruf balok, dilarang buang air kecil sembarangan. Tapi, tetap saja tak ada yang peduli. Sibuk dengan urusan masing-masing.

Aku melompat. Menghindari genangan air sisa hujan tadi sore. Sedikit mengangkat celana agar tak terkena percikannya. Sialnya, seekor tikus mencicit kaget karena tak sengaja ekornya kuinjak. Reflek. Aku ikut menjerit. Berlari menjauh. Uh, aku phobia dengan binatang berbulu ini! Sisa genangan air hujan yang bercampur leleran sampah yang tadi kuhindari, kini malah sukses merembes di celana. Nasib.

Aku melengos, merutuki diri. Kenapa juga nekat melewati jalan pintas yang sepi ini. Padahal sepulang kerja, aku biasanya melewati jalan yang berada di sepanjang emperan toko. Jalannya tetap kering, meski hujan deras usai mengguyur. Memang jalan ini memutar agak jauh. Lumayan, sekitar 100 m.

Aarrgg..!!

Tiba-tiba kudengar suara mengerang tak jauh di depanku. Penasaran aku mendekat. Dengan berjingkat, aku melangkah tanpa bersuara. Jantungku berdebar semakin kencang ketika mendapati sosok tambun berkepala besar dan gundul tengah mengaduh. Memegangi perut sembari terbaring membelakangi. Pikiranku mulai waspada. Jangan-jangan sosok ini penjahat yang sedang menyamar menjebak mangsanya. Barangkali temannya menunggu di sudut gelap lain. Apalagi sebulan terakhir santer diberitakan banyaknya kasus penodongan di kota ini. Aku menoleh ke kanan-kiri. Curiga. Atau jangan-jangan dia yang jadi korbannya. Mungkin karena melawan, penjahat tega melukainya. Menghunuskan senjata tajam ke lambungnya hingga isinya terburai. Aku bergidik. Tapi sepertinya dalam keadaan samar aku tak melihat darah bercecer, juga bau amisnya.

Dadaku semakin berdetak kencang. Tanganku ingin menggapai tubuhnya. Memastikan keadaannya, tapi urung. Rintihannya terdengar semakin pilu. Membuat bulu kuduk merinding. Udara seperti terasa bertambah dingin. Aku menoleh sekitar. Sosok tambun tadi masih mengerang kesakitan. Aku semakin mendekat. Aku terpekik menahan kaget begitu menyaksikan sosok tadi tak bertelinga. Langkahku surut ke belakang. Kakiku gemetar, tak kuasa untuk berlari. Keringat dingin membanjiri dahiku. Mulutku terkatup terkunci.

Jangan-jangan dia zombie yang bergentayangan. Bagaimana kalau tiba-tiba bangkit dan mencekik leherku. Menancapkan giginya yang kuning penuh dengan kuman-kuman. Menghisap setiap tetas darah. Lalu meninggalkan jasadku seenaknya di gang berkubang sampah dan bau pesing ini.

Suara tikus got semakin mencicit. Menambah kalut pikiran. Tak kupedulikan sisa genangan air hujan mengotori celana. Ingin aku berteriak minta tolong, tapi tenggorokan terasa cekat. Tanganku menggapai dinding-dinding. Celanaku menyaruk tumpukan sampah Biarlah bau tak sedap, asal bisa menghindar dari makhluk tadi.

Cii..tt!!

Dadaku berdetak tak karuan. Tikus-tikus got sialan. Aku menggerutu lagi karena tak sengaja menginjak ekornya sewaktu tikus tadi mengaduk sampah di dekat keranjang. Untung saja tak sampai kaget terkencing-kencing di celana. Antara kesal dan khawatir, mataku masih awas mengamati sosok yang tengah mengerang tadi. Tidak bereaksi terhadap sekitar. Masih di tempatnya. Pikiranku mulai jernih. Nafasku kembali teratur. Barangkali dia memang bukan begal, ataupun zombie. Kebanyakan menonton film horror jadinya berkhayal berlebihan. Siapapun dia, mungkin memang sedang butuh pertolongan.

Aku mendekat, masih waspada. Erangnya belum terhenti. Aku coba menegur dari jarak tiga langkah. Berjaga-jaga. “Halo, apakah orang di sana?”

Memang sedikit agak keterlaluan caraku menegur sosok tadi. Aku masih berjaga-jaga menghadapi bermacam kemungkinan. Mataku masih awas mengitari sekitar.

“Halo, apa kau mendengar suaraku?”

Sosok tadi masih mengaduh. Tangannya memegangi perutnya yang juga tambun. Ia masih terbaring membelakangi. Suara hatiku mengatakan, ia tidak sedang berpura-pura. Dengan mengucap do'a kuberanikan diri memastikannya.

Astaga! Apa yang kusaksikan ini sungguh tak masuk akal. Ketika tanganku menyentuh bahunya, segera ia membalikkan diri. Tatapan kami bersingungan. Matanya terlihat menyala kuning membias cahaya temaram lampu di kejauhan. Kumisnya yang jarang, melintang panjang. Mulutnya besar, tapi tak bertaring. Dan wajahnya tidaklah mirip wajah manusia. Wajah itu, wajah seekor kucing tapi tak berbulu!

“Tolong…” erangnya lemah.

Aku menahan nafas. Ingin terbirit. Tapi tatapan matanya mengisyaratkan jangan pergi. Makhluk apapun, dia butuh pertolongan.

Dengan debar aku berjongkok menggapai tubuhnya. Ia berbisik, meminta makan. Kuberikan sekerat roti yang kubeli usai pulang kerja tadi. Ia melahap dengan rakus. Aku tersenyum, barangkali sosok ini hanyalah seorang tuna wisma yang kelaparan entah dari mana. Kusodorkan pula sebotol air mineral. Ia meneguknya sampai kandas.

“Terima kasih.” Terlihat merekah senyum di bibirnya. Ia mencoba duduk, aku membantunya. “Perjalanan yang melelahkan. Tak disangka aku terdampar di tempat kotor dan bau ini.” Ia terkekeh. Tawanya berat mirip eong kucing, eh, maksudku seperti kucing jadi-jadian.

Aku memaksa balas tersenyum, menebak, entah apa yang dipikirkan sosok ini.

“Kau tahu, aku di tempat ini memang untuk menemuimu. Aku ditugaskan seseorang.” Ia terbatuk kecil. Tangannya didekatkan menutup mulut. Astaga, makhluk ini tak punya jari ternyata.

Tiba-tiba sebuah benda tipis menyerupai kain berbentuk separuh lingkaran melayang turun dari atas. Ia mengangkat tangannya menggapai benda tadi. Anehnya, meski tanpa jari, benda tipis yang disentuhnya tadi seperti melekat sempurna. Ia menempelkan di perut lalu merogoh isinya. Mengeluarkan sebuah kapsul, lansung ditelannya. Keanehan terjadi. Berangsur-angsur seperti tubuhnya pulih kembali, terlihat bugar. Ia menjulurkan tangannya yang tak berjari, mengajak bersalaman. Aku ragu-ragu menyambutnya.

“Perkenalkan, aku DORAEMON dari abad 22. Karena Nobita sudah menikah dan sibuk mengurus keluarga. Ia meminta aku menemui dan menemanimu sementara waktu untuk mengusir kesepian. Kau suka bertualang bukan?”

Aku tercengang. Benarkah ia yang hampir kusangka zombie ini sosok yang sering kusaksikan di televisi di minggu pagi?

Ia merogoh lagi kantongnya. Mengaduknya sebentar, lalu sebuah pintu papan seukuran dua meter persegi keluar dari kantongnya. Ia menarikku dan seketika kami menghilang dari gang gelap dan bau pesing ini, entah ke mana!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1655 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels