|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |



Ahad, 26 September 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Membaca kisahmu, aku terharu. Menyimak jejakmu, kutahu beruntungnya aku. Dua tahun sudah aku mengenalmu. Lewat seberkas senyuman dan gaya rambut yang mirip vokalis Kangen Band yang kala itu tenar. Dan kerlingan matamu, membawaku sebuah tanya. Inginnya kuselami samudera kehidupanmu.
Aku biasa memanggilmu, Budi. Namun itu namamu kala engkau masih kecil. Ketika tubuhmu didera sakit berkepanjangan. Atas kehendak orangtuamulah,engkau berganti nama baru, Zaky. Ah, nama yang indah. Semoga setiap detak masa depanmu kelak, seindah namamu.
Engkau sering menghilang, tanpa berita, tanpa cerita. Berbulan lamanya entah ke mana, dan dari mana pula tiba-tiba engkau datang kembali. Di hidupku. Masih dengan senyuman dan gaya rambut yang berbeda pula, Emo. Dan tak lupa engkau menyapa, “Baikkah dirimu?”
Binar di matamu, sungguh menyiratkan seribu cerita. Begitu sukar, dangkal, riak, dan bergejolak. Petang itu dalam kebersamaan kita, kau mengungkapkan sebuah asa. Kutanya, “Ke mana hape yang kemarin engkau bawa?”
“Dipinta adik, ia malu bertemu temannya dengan hape butut ini,” katamu seraya menunjuk sesuatu di tanganmu.
“Kenapa?”
“Karena begitu sayangnya diriku padanya. Adikku adalah bingkisan yang tak ternilai anugerah Tuhan. Satu-satunya yang masih kumiliki.”
“Kawan, engkau tahu?” bisikmu.
“Ya.”
“Ibuku telah lama meninggal, dan ayah sudah dimiliki keluarga lain. Saat ini aku beruntung, masih mempunyai seorang bibi yang mau menerima kami; aku dan adik. Seperti adanya.”
Rasanya aku ingin menangis, mendengar penuturanmu. Ketegaran yang penuh liku, tatapan yang tak pernah sendu, dan engkau selalu mampu menyembunyikan kegetiran hatimu dariku, selalu, lewat senyum ceriamu.
“Aku membiayai sekolah adikku. Sendiri. Karena ayah sudah tak peduli lagi pada kami.”
Deg, rasanya jantungku berhenti berdetak, nafas tertahan, dan tenggorokan tercekat.
“Dan kenapa aku sering menghilang berbulan-bulan?” tanya yang akhirnya engkau jawab sendiri.
“Di kampung, di rumah bibi, aku membantunya mengecat wayang golek pesanan seseorang. Meski jika sepi, terkadang tak mendapat upah. Namun itu lebih dari cukup, bibi telah menghidupi kami.”
Aku termangu, membaca lagi kisahmu yang tak pernah terpetik dalam hati.
“Maukah engkau kubawakan sesuatu?” tawarmu.
“Apa itu?”
“Wayang golek, dan nanti akan kupulas sendiri.”
“Ya, mauuu.”
“Tapi habis Lebaran ya,” godamu menghadirkan tawaku.
“Boleh.”
“Siapa wayangnya? Hmm, yang ada mahkotanya yah. Mungkin Arjuna atau Gatotkaca.”
“Iya deh.”
Waktu itu engkau dapat menangkap binar kebahagiaan di mataku. Engkau tidaklah sendiri, kawan. Masih ada aku yang selalu setia mendengar ceritamu dan meresapi kisah hidupmu. Dalam perjuangan hebat meretas batas, seakan engkau membisik ke dadaku.
“Beruntungnya hidupmu, Sobat.”
Cerah mentari mengukir hari-hari, engkau tapaki dengan mimpi. Membawa asamu melayang tinggi hingga sisa nafas kan terhenti.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.