|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
why_klt@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/awwibowo |




Ahad, 17 Oktober 2010 pukul 17:45 WIB
Penulis : Aw Wibowo
Matahari telah naik sepenggalah. Sinar hangatnya menembus bening jendela kaca. Memantul kerlap di permukaan keramik kamar yang berkilau. Namun tubuh ini, masih meringkuk bak kucing tertidur. Nyaman berselimut kain sarung bermotif kotak. Rupanya terjaga semalam telah membuat betah dalam peraduan. Memicingkan mata sesaat, menidurkan tidur.
"Tok.. tok.. tok.." seseorang mengetuk pintu kamar.
"Ada apa, Pak?" tanyaku setelah membuka pintu.
"Di luar ada seseorang yang ingin bertemu."
"Oya, tunggu sebentar."
Bergegas kupakai sandal jepit yang terhampar di depan pintu. Kaos oblong, celana pendek, rambut acak-acakan, wajah kuyu. "Ah, nggak peduli. Toh ini juga belum masuk jam kerja," batinku.
Tergopoh-gopoh kusambangi mereka. Ternyata dua orang lelaki yang datang tempo hari. Seorang bapak berperawakan sedang dengan kemeja putih bergaris lurus tegak dan bawaan celana panjang jeans biru. Seorang lagi, pemuda berperawakan tinggi, agak gemuk, t-shirt putih berpadu celana pendek jeans. Kusalami mereka. Senyum ramah pun bersambut.
"Punten. Ada apa ya, Bapak mencari saya?"
"Begini, Mas, mau ikut nimbang lagi boleh."
"Mangga."
"Tapi nanti tolong dikurangi sedikit angkanya bisa, bisa kan, Mas?"
"Hmm, gimana maksud, Bapak?"
"Kemarin saya merugi. Lantaran ada barang yang tersisip tak masuk hitungan ikut tertimbang. Tolong bantu kami, Mas."
"Tapi, Pak."
"Nggak usah kuatir. Nanti tiap mobil, Mas akan saya kasih imbalan. Tinggal Mas kurangi angkanya sekian kuintal atau berapa ton."
"Aduh, gimana ya?"
"Jangan takut. Di sana sudah nggak ditimbang lagi. Toh tak akan ketahuan. Saya juga tak kan beritahu siapa pun. Gimana?"
Pikiranku berkecamuk, dada kian bergemuruh, tenggorokan tercekat. Rasanya kiamat telah mendekat.
"Bro, ini namanya rejeki nomplok."
"Ah, bukan rejeki namanya mah kalau haram."
"Bayangkan, Bro, beberapa lembaran kertas merah dalam genggamanmu. Jangan siakan peluang emas ini. Kapan lagi?!"
"Jangan. Jangan kau terima tawarannya. Tidak! Tolak saja!."
Nafsu buru merayu dan nurani tak henti berteriak.
"Huufff."
Kuhela nafas panjang. Bibir masih terkatup. Dan mereka menunggu sekata jawaban. Ya atau tidak.
"Punten, Pak. Sepertinya saya tidak dapat membantu Bapak. Saya sudah berkomitmen. Maaf," ucapku lirih terdengar.
"Nggak apa-apa kok. Barangkali saja."
Mereka lalu berpamitan. Mungkin ketidakpuasan bersamanya. Namun kelegaan merajai hatiku.
Kutatap punggung mereka lekat-lekat, hingga samar memudar di kejauhan.
Tak bisa kubayangkan seandainya kuterima tawarannya. Mengurangi hak orang lain demi keuntungan pribadinya. Ah, emangnya nanti dia mau menanggung dosaku. Memikul beban sekian kuintal yang telah kucurangi. Ckckck. Dunia. Dirimu memang begitu menggoda.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aw Wibowo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.