|
QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
"
|
|
|
http://mariam008.multiply.com |
|
mariam@kotasantri.net |
|
mariam@kotasantri.net |
|
|
mary_oq07 |
|
email_aq07@yahoo.com |





Selasa, 31 Agustus 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Mariam Komalawati
Setiap orang pasti tidak ingin mengalami kegagalan, apalagi kesia-siaan. Jika kita perhitungan, mencoba untuk mengkalkulasikan betapa besar kerugian yang harus kita terima dari sebuah kesia-siaan, mulai dari aspek materi secara duniawi ataupun dari aspek ruhiyah secara ukhrawi. Lantas bagaimanakah seorang hamba berupaya untuk menjauhkan diri dari kesia-siaan ini? Berikut adalah tiga hal yang harus dihindari untuk menjauhkan diri dari kesia-siaan.
Tujuan yang jelas dari setiap langkah nyata dalam kehidupan adalah suatu keharusan. Alkisah, di suatu pertigaan jalan, laki-laki bertanya kepada seorang bapak yang ditemuinya, laki-laki itu menanyakan manakah jalan yang harus dia lewati. Sang Bapak balik bertanya, ”Hendak ke manakah tujuanmu?” Laki-laki tadi tidak menjawab, kemudian sang Bapak berkata bijak, “Selama tujuanmu tidak jelas, jalan manapun yang kau lewati tidak akan memberikan dampak padamu." Sekilas kita dapat mengambil hikmah bahwa tujuan hidup yang tidak jelas hanya akan mendatangkan kesia-siaan.
Barometer setiap langkah polah dan akhlaq kita adalah niat, seseorang akan mendapatkan apa yang menjadi niatnya, “Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari - Muslim).
Alangkah ironis dan tidak bermaknanya amalan kita jika hanya bersandar pada niat-niat keangkuhan atau kesombongan di mata sesama, tidak memberikan nilai tambah pada aspek ruhiyah kita. Niat yang tidak berdasarkan keikhlasan hanya akan mendatangkan kesia-siaan.
Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat, keutamaan ilmu sangat berdampak, bahkan Allah meninggikan beberapa derajat kedudukan hamba-Nya yang alim, seperti tertulis di dalam QS. Al-Mujaadilah : 11, "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ilmu yang kita tahu adalah bekal dalam pengalamannya, siapakah yang lebih tinggi derajatnya antara seorang alim (ahli ilmu) dengan seorang abid (ahli ibadah)? Amalan tanpa ilmu adalah nol, demikian juga sebaliknya, ilmu tanpa amalan adalah bentuk dari kesia-siaan. Dengan ilmu kita jadi tahu, dengan ilmu pulalah kita jadi mampu.
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mawas diri dari hal yang hanya mendatangkan kesia-siaan. Aamiin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mariam Komalawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.