|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://mariam008.multiply.com |
|
mariam@kotasantri.net |
|
mariam@kotasantri.net |
|
|
mary_oq07 |
|
email_aq07@yahoo.com |





Jum'at, 16 Oktober 2009 pukul 17:32 WIB
Penulis : Mariam Komalawati
“Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu.”
Semua orang tentu saja mempunyai sahabat tempat berbagi. Dialah salah seorang yang dirasakan berarti dalam kehidupan kita. Rasanya dunia terasa sepi tanpa kehadiran seorang teman. Bagaimana pun kita memerlukan sosok sahabat, bukan?
Persahabatan idealnya tidak hanya semata terjalin sebagai hubungan “romantis”, dimana kita saling mencari kepuasan emosional, hanya sebatas tempat curhat, tempat dimana rutinitas sehari-hari terjalin dengan mengucapkan salam setiap bertemu. Tetapi lebih dari itu, sahabat diharapkan menjadi sosok yang bisa saling menjadi cermin bagi satu sama lain.
Disaat seseorang curhat, maka sahabatlah yang tidak hanya sebatas setia mendengarkan, tetapi juga memberikan solusi/motivasi. Ketika seseorang menceritakan suatu hal, sahabatlah yang saling menguatkan bahwa setiap peristiwa terjadi dengan cara yang dapat dimengerti manusia, sahabat mengingatkan bahwa terdapat ibrah dari segala sesuatu yang pada akhirnya membawa pada kebijakan dalam bersikap.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan dimana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain.” (HR. Muslim).
Sahabat tidak akan membiarkan kita “diam kebingungan” ketika suatu masalah yang melibatkan kedua belah pihak muncul. Apakah cukup dengan alasan introspeksi, seorang sahabat bisa mendiamkan sohibnya sendiri?
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki, dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Mutafaq ’alaih).
Kita semua tahu bahwa kita adalah manusia yang terkadang khilaf, sehingga membutuhkan cermin di luar dirinya untuk memberikan efek bias dari sikap/sifat yang mungkin kurang berkenan. Terkadang hati tidak cukup jernih untuk menjadi cermin, sehingga membutuhkan objek lain sebagai cermin. Cermin itu adalah engkau, wahai sahabat. Jika terdapat hal yang kurang berkenan, maka sampaikanlah sebagai bentuk konfirmasi, sehingga tidak ada lagi prasangka dan kesalahfahaman apalagi mengarah pada tajassus. Na’udzubillah.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat : 12).
Syair berikut menggambarkan berartinya seorang sahabat:
"Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi
Dialah lading hati, yang dengan kasih kau taburi
dan kau pungut buahnya penuh rasa terima kasih
Kau menghampirinya di kala hati gersang kelaparan,
dan mencarinya di kala jiwa membutuhkan kedamaian
Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan
kecuali saling memperkaya jiwa"
=== Kahlil Gibran ===
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mariam Komalawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.