QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://alfach.kotasantri.com
Bergabung
3 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciputat - DKI Jakarta
Pekerjaan
IT Consultant
Alfach adalah 'nama' lain dari Achmad Fachrie atau dikenal sebagai Fachri. Nothing special with me, just try to be my self dan mencoba meraih ridhaNya. Saya hanya seseorang yang biasa saja yang ingin belajar dan berkembang, yang ingin bergerak dan berkontribusi.
http://alfach.com
alfachrie
alfcah02
alfachrie@gmail.com
Tulisan Achmad Lainnya
Kontribusi Menyejarah
16 April 2010 pukul 18:11 WIB
CaraNya Begitu Indah
30 Maret 2010 pukul 18:51 WIB
Menaruh Harapan, Merendahkan Hati
12 Maret 2010 pukul 18:22 WIB
Ketika Ku Harus Pergi
4 Maret 2010 pukul 18:05 WIB
Seramah dan Selembut Hati
23 Februari 2010 pukul 18:16 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 11 Mei 2010 pukul 18:00 WIB

Hikmah yang Terpilih

Penulis : Achmad Fachrie

Begitu banyak kejadian menyimpan arti. Tapi kebanyakan kita tidak memahami. Jika dihitung, berapa banyak perubahan yang terjadi di hadapan kita. Perubahan yang awalnya merupa kehadiran, lalu mengisi dan mungkin perlahan kehadiran itu menjadi berbeda.

Waktu tidak pernah berhenti berputar. Satu kejadian yang terjadi, ia tidak pernah terputus dalam satu titik. Tapi terkadang kita berhenti pada titik tersebut. Lalu kita pun menyimpulkan sesuatu pada titik tersebut. Padahal belumlah sempurna.

Begitu banyak kebaikan, tetapi terlempar dari ruang diri, ketika kita tak mampu memahami karena tertutup emosi. Begitu banyak kesempatan kebaikan, tetapi terkikis waktu, karena terlalu sering menunda, menuruti emosi. Ketika seharusnya satu titik terberi untuk memahami, menjadi lusuh tak terbaca, lalu tenggelam tertelan waktu dan mungkin tak kembali.

Dan mungkin juga, banyak hal yang terjadi, menjadi lupa karena terlalu sering membiarkan terlupa. Ketidakwajaran menjadi hal yang biasa, ketika satu bisikan kecil terlepas dibiarkan memanja, maka hikmah pun mengabur antara dariNya atau hanya fatamorgana.

Hikmah menjadi harta yang sangat berharga, ketika kesedihan terus melanda, tak mampu memahami atas kilasan waktu yang ada di hadapan diri.

Hikmah seharusnya cahaya, yang mencerahkan, yang mencemerlangkan nurani. Melapangkan dan mengayakan jiwa, menerangi pikir dan jiwa. Menuntun rasa syukur tercipta.

Hikmah bisa menjadi sebuah proses, karena ia jarang bisa diambil dalam satu waktu. Karena terburu dalam mengambil sesuatu cenderung melupakan yang lain. Karena, ada kalanya hikmah datang ketika sudah menyeluruh. Ia tidak separuh, ia tidak setengah. Ia tidak untuk yang mengambil sebagian, tapi membiarkan yang sebagian yang lain. Ia menghampiri dan memperhatikan semua sudut. Lalu terlihat mencerahkan dari semua penjuru.

Atas nikmat yang terberi, ada hikmah di baliknya. Atas kesulitan yang menghampiri, ada hikmah di baliknya. Hikmah bisa menjadi menunggu untuk dibuka. Tapi hikmah juga bisa terus tertutup bagi yang tidak mencarinya. Allah selalu dalam kehendakNya, selalu mendahulukan sebuah usaha, daripada berpangkutangan untuk mendapatkan sesuatu.

Walau begitu, ada kalanya juga, hikmah datang menghujam ke dalam hati pada siapa yang terpilih. Dia-lah yang lebih mengetahui atas ketidaktahuan, keterbatasan akal manusia. Awal yang terjadi saat ini, kita tidak akan pernah tahu bagaimana nanti akan berakhir. Atas nikmat yang terberi, maka memang sepatutnya kita bersyukur agar nikmat yang terasa semakin bertambah untuk mendekatkan kita kepadaNya. Dan atas kesulitan yang menguji, memang sepatutnya kita bersabar, agar kesulitan itu mewujud sikap yang menggantikan keresahan menjadi kedekatan kepadaNya.

Tidak ada yang merugi atas segala yang terjadi, jika itu justru membuat kita semakin dekat kepadaNya. Yang membuat terasa rugi, sakit, justru dari diri kita sendiri. Sebagai manusia, memang nikmat lebih kita sukai daripada musibah. Tapi kita tidak tahu, pada titik mana sesungguhnya kita terasa lebih dekat kepadaNya.

Maka dalam do'a yang terpanjat, "Nikmat dariMu sesungguhnya lebih kami sukai daripada ketika musibah menguji. Tapi, ya Rabb, yang kami lebih sukai lagi, adalah ketika Engkau menjadikan dalam keadaaan apapun dan bagaimana pun menjadikan kami semakin dekat kepadaMu."

“Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah : 269).

http://alfach.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

aisy_me | Karyawan Swasta
Bagus-bagus tulisannya, menambah semangat dan inspirasi. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1162 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels