|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://alfach.com |
|
alfachrie |
|
|
alfcah02 |
|
alfachrie@gmail.com |





Selasa, 23 Februari 2010 pukul 18:16 WIB
Penulis : Achmad Fachrie
Apa yang keluar dari hati akan mengena di hati. Ya, begitulah pepatah mengatakan. Apa yang engkau keluarkan dari hati, pasti akan mengena ke hati. Hati adalah bagian yang paling halus dalam diri. Karena di situlah Allah menempatkan nurani berada, karena di situlah rasa kasih dan sayang terlahir. Rasa sedih, rasa gembira adalah pantulan dari hati, walau engkau hanya berdiam diri.
Tak peduli bagaimana tampilan luar yang terlihat, tak selamanya itulah yang terlihat sesungguhnya. Hati orang yang beriman dikatakan adalah hati yang paling halus. Hati yang begitu peka dalam merasakan setiap yang terjadi. Hati yang mudah tersentuh ketika melihat yang terjadi. Itu karena hati orang yang beriman begitu bersih, tanpa terhalang adanya hijab dalam merasakan sesuatu. Langsung mengena tanpa terhalang sekat-sekat yang menghalangi.
Sesuatu pemberian yang dari hati akan sangat terasa walau dalam bentuk fisik sangatlah kecil. Sesuatu yang dikatakan dari hati akan menyentuh hati bagi yang mendengarnya. Karena hati yang sesungguhnya akan tercermin bagaimana semuanya bersikap dan berlaku, senyum yang tulus, sapaan yang hangat, perkataan yang lembut, atau mungkin hanya sekedar tatapan mata yang ringan karena Allah.
Jika berbicara manusia yang memiliki hati yang paling lembut, maka dialah Rasulullah SAW. Bagaimana semua orang terpesona akan pribadinya. Tidak terbatas dalam lingkup keluarga pada istrinya, tapi juga sahabat-sahabatnya, bahkan musuhnya sekalipun.
Sikap dan tingkah laku Rasulullah SAW adalah sikap dan tingkah laku yang terbaik yang diberikan kepada semua orang, dalam setiap waktu dan keadaan, kepada siapa pun tanpa memandang kedudukan.
Perhatikanlah yang dikatakan betapa terjaga sahabat dan tetangganya dari lisan dan sikapnya. Bahkan kepada pembantunya sekalipun. Begitu besar pengertiannya kepada setiap orang, ketika meredakan kecemburuan Aisyah, ketika menghibur anak Abu Umair yang kehilangan burung (hewan peliharaan), “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh si Nughair?” Subhanallah… Ah, bagaimana kami tidak merindukanmu, ya Rasulullah SAW.
Selembut dan seramah itulah hati milik orang-orang yang beriman. Karuniakanlah kami, Ya Rabb.
Wallahu a’lam bishshawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.