|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://alfach.com |
|
alfachrie |
|
|
alfcah02 |
|
alfachrie@gmail.com |





Selasa, 29 Desember 2009 pukul 18:22 WIB
Penulis : Achmad Fachrie
Kalau ada momen waktu yang tidak disukai di dalamnya, maka kita akan menyebutnya itu perpisahan. Seandainya bisa memilih, semua pertemuan yang sudah terlalui, akan tetap terlalui tanpa adanya perpisahan. Bagaimana tidak berat, semua waktu yang sudah dilalui, seakan sudah mengisi melengkapi diri, pada saatnya akan berpisah.
Waktu-waktu yang terangkai menjadi sebentuk memori, bukan hanya sudah mengisi dalam kepala, tapi juga hati. Apalah jadinya diri ini tanpa ada pertemuan yang sudah dilalui, apalah artinya diri ini tanpa engkau yang sudah menemani, memaklumi atas kekurangan hingga mengantarkanku pada tempat ini. Semuanya terasa indah, walau selisih dan kerikil mengusik, tapi tetap indah karena kita tetap bersama, hingga pada saatnya harus terlepas. Berat, tidak mudah untuk dilalui. Apalagi memori itu seakan mengkristal, tertanam dengan dalam, menjadi akar yang menumbuhkan diri dan jiwa.
Pertemuan yang dilalui, seakan bagian dari puzzle yang membentuk diri. Setiap pertemuan menjadi puzzle pelengkap diri. Maka, kadang kehilangan pertemuan itu, menjadi kehilangan puzzle yang sudah terbentuk di diri. Mengapa puzzle? Karena kita adalah makhluk yang tak sempurna, tak selamanya sempurna. Keadaan orang-orang di sekitar kitalah yang membentuk, merangkai gambaran diri kita.
Kehilangan orang-orang yang memiliki arti sudah terlalui seakan meninggalkan ruang kosong, yang tak terganti. Karena bagi kita, setiap orang yang berarti itu ditemui tak terganti. Mereka unik, mereka melengkapi diri. Mereka yang telah membentuk diri. Setiap bertemu yang baru sementara kehilangan yang lain, itu hanya menjadi puzzle yang berbeda, bisa lebih kecil atau lebih besar, mungkin mirip, tapi tak kan mengganti yang sudah terlalui.
Seperti halnya Khadijah atas Aisyah, di mata Rasulullah, Khadijah tak kan terganti, karena telah membentuk peran berbeda dalam kehidupan Rasulullah. Bukan untuk bergelayut dalam kesedihan, atau terjebak dalam masa lalu, tapi menghargai akan hadirnya sebuah pertemuan untuk menyadari adanya perpisahan.
Karena, hakikat perpisahan adalah agar kita menghargai atas waktu yang berisi atas orang-orang sekitar kita yang menemani, bahwa mereka hadir hanya sementara, dan kita pun hadir hanya sementara. Keberartian seseorang adalah ketika kehadirannya memberi manfaat untuk sesama untuk melengkapi kekurangan di sekitarnya. Karena adakalanya, kita bertemu dengan seseorang berpuluh-puluh tahun, tapi hanya sedikit memberi bekas kepada diri, dan adakalanya pula kita bertemu seseorang yang hanya waktu sebentar bahkan tak terkata, tapi memberi kesan mendalam yang sangat besar tak terganti.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.