HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://alfach.kotasantri.com
Bergabung
3 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciputat - DKI Jakarta
Pekerjaan
IT Consultant
Alfach adalah 'nama' lain dari Achmad Fachrie atau dikenal sebagai Fachri. Nothing special with me, just try to be my self dan mencoba meraih ridhaNya. Saya hanya seseorang yang biasa saja yang ingin belajar dan berkembang, yang ingin bergerak dan berkontribusi.
http://alfach.com
alfachrie
alfcah02
alfachrie@gmail.com
Tulisan Achmad Lainnya
Gelisah Ini
5 Oktober 2009 pukul 17:14 WIB
Ramadhan, Sungguh Istimewa Hari-hari Bersamamu
22 September 2009 pukul 18:10 WIB
Dia Tahu Airmatamu
11 September 2009 pukul 18:00 WIB
Membersamai Pilihan KarenaNya
28 Agustus 2009 pukul 17:10 WIB
Mempersiapkan Ramadhan
14 Agustus 2009 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Selasa, 27 Oktober 2009 pukul 18:30 WIB

Untuk Nanti

Penulis : Achmad Fachrie

Siapa yang bisa menduga hari esok? Pastinya tidak ada yang tahu. Hidup selalu menyimpan perjalanan berliku. Perjalanan yang terkadang membuat kita bertanya dan meragu akan saat ini yang kita lalui. Tapi hidup juga ada kalanya membuat kita takjub atas apa yang sudah dialami.

Air mata mungkin sempat menetes ketika menjalani hidup ini, tapi senyum pun pasti pernah mengembang ketika kegembiraan menyapa hati ini. Atas semua yang sudah terjadi, atas semua yang sudah terlewati. Ya, sesungguhnya itu adalah rahasia Yang Mahakuasa untuk nanti.

Perlahan tapi pasti, kejadian-kejadian yang sudah kita lalui itu adalah untuk nanti. Mungkin berawal tidak mengenakkan, tapi kita tidak pernah tahu bagaimana nanti akan berlanjut.

Hidup berisi dengan aneka macam peristiwa. Peristiwa yang menghadirkan silih berganti perasaan yang mengisi jiwa. Di mana kita melewati satu momen ke momen lainnya. Meraih satu cita ke cita lainnya. Begitu indah ketika cita itu berhasil kita lewati dan kita raih. Tapi itu untuk nanti.

Adakalanya juga kita melepas satu momen untuk meraih momen lainnya. Melepas satu keinginan terganti meraih keinginan lainnya. Terkadang serasa sulit untuk menerima yang ada di depan mata, ketika harus melepas cita yang begitu kita impikan. Ini juga untuk nanti.

Tidak ada salahnya ketika kita begitu mempertahankan cita kita, siapa pun berhak merasa kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Ada yang mengatakan perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira, tapi juga bisa kecewa.

Orang bijak mengatakan, hidup itu adakalanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, ketika kita renungkan, kita lahir ke dunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dan sebagainya.

Di balik segala cita, di balik segala perasaan kecewa yang hadir karena mempertahankan cita itu. Perasaan menerima untuk melepas ketika cita itu tidak berhasil kita raih merupakan kesiapan yang perlu dihadirkan. Di balik segala cita, di balik segala perasaan yang melahirkan pertanyaan akan jalan yang kita tempuh. Perlulah menjaga dengan meyakinkan diri itu dariNya untuk diri kita bahwa semuanya untuk nanti yang akan baik-baik saja.

Maka kokohkanlah keimanan saat perjalanan membuat kita bertanya, saat membuat kita meragu dan kecewa itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung untuk nanti. Dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita bahwa Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya.

Memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.

"Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika menderita kesusahan ia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya." (HR. Muslim).

Wallahu a'lam bishshawab.

http://alfach.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1100 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels